Laman

Search

12 Maret 2010

Pencopet Jalanan Causeway Bay Disetiap Minggu Cari Mangsa BMI: Uang Pinjaman Untuk Berobat Seketika Raib

Hari Minggu, tentunya adalah hari yang sangat dinanti oleh jutaan buruh migrant Indonesia (BMI) yang bekerja di Hong Kong. Setelah lelah yang mendera selama sepekan bekerja di rumah majikan. Bagi sebagian besar BMI di HK , tentu tidak asing lagi dengan yang namanya Causeway Bay atau Viktori Park yang terkenal dengan sebutan ‘’Kampung Jawa’’ nya Hong Kong. Mereka menghabiskan waktu liburnya di Viktori. Maka tak heran ketika menjelang hari libur, Minggu atau pun tanggal merah, sepanjang jalan menuju lapangan Viktori dipadati BMI, sehingga jalan sering macet oleh lalulalangnya para pekerja devisa ini.

Titik ramai biasanya terlihat di depan toko Chandra, di depan Toko CSL, depan Seven Eleven (bawah jembatan). Maklum selain tempat nongkrongnya para BMI,  di depan toko CSL juga tempat mangkirnya dan berjejernya ‘’Siupa’’ (bis kecil jurusan Shau Kei Wan dan lewatnya Taksi). Sehingga untuk berjalan selalu berdesakan. Dan ternyata kondisi seperti itu, mungkin atau entah dimanfaatkan sejumlah BMI untuk melakukan tindak kejahatan, yaitu mencuri barang BMI yang pada lalu lalang di tempat itu. Maka tak heran, sering terdengar kabar ada BMI yang kehilangan uang atau hp atau dompet di jalan itu. Dan kasus itu pernah juga dimuat di salah satu Koran local gratisan yang berbahasa Indonesia di HK. Bahkan menurut informasi yang diperoleh  Memo, hampir setiap Minggu banyak maling yang berkeliaran di dua jalan titik ramai itu. Dan yang paling mengejutkan ternyata pelakunya antara lain adalah dari kalangan BMI. Oknum BMI ini melakukan aksinya secara berjamaah (bergerombol), mereka tidak sendiri.
‘’Banyak kok Mbak, yang pada laporan kalau Minggu lewat di jalan itu, rata rata pada kehilangan uang. Mungkin para pelakunya sudah merencanakan sedemikian rupa,  jadi ada yang tugasnya pura pura menyapa, terus ada yang tugasnya seolah olah mepet mepet ke korban, juga ada yang kebagian tugas menarik dompet/hape dari saku celana belakang," ujar Siti, yang tinggal kebetulan dekat pasar baju Causeway Bay.

Bahkan Minggu lalu (7 maret), saat Memo akan meliput aksi unjukrasa yang digelar oleh organisasi buruh migrant Indonesia di depan kantor Konsulat dalam rangka memperingati hari Women Day’s (hari Perempuan International), jam 11.00 sempat molor. Ini disebabkan saat Memo lagi jalan di depan toko Chandra untuk menuju kantor KJRI HK, Memo melihat ada dua BMI yang menangis bahkan dari mulut BMI itu keluar kata kata kasar dan mencaci maki seseorang. Setelah Memo mendekat dan mencari tahu ada apa, barulah jelas. Ternyata dia adalah seorang BMI yang baru saja saja kehilangan dompetnya beserta hape. Dan yang paling miris, di dalam dompetnya ada uang sebesar HK$ 15.000 (kurang lebihnya 20 juta-an) dan uang itu baru ia terima dari pinjaman salah satu bank financial, ATM BCA, KTP Hong Kong, dan sebuah hape merk terbaru Nokia 5310 yang baru saja dia beli.
Adalah Triana, BMI asal Blitar yang baru ketiban sial tersebut. Dengan wajah marah dan mulut yang masih mencaci maki dan sesekali kaya orang bingung, menceritakan kejadiannya kepada Memo.
"Saya sebenarnya malas libur ke Causeway Bay, selain banyak orang, saya juga bosan. Tapi dipaksa sama teman. Dan kebetulan teman itu adalah saksi, karena saya mau pinjam uang. Mau gak mau ya saya iya-in. kebetulan bank financial yang saya ajukan pinjaman uang, itu juga punya cabang, dekat sama rumah majikan saya di daerah Meifoo. Tapi teman saya itu yang akan jadi saksi, ngotot untuk ambil uangnya di Causeway Bay aja. Saya pinjam uang di bank itu karena ada kebutuhan yang besar dan mendadak. Bapak saya sakit perlu dirawat inap dan adik laki saya dua dua nya juga mau ujian akhir. Aku butuh uang yang banyak. Setelah selesai di bank, rencana saya mau jalan ke bank BCA hari itu juga mau saya kirimkan. Tapi sebelum jalan ke bank BCA, saya mampir dulu di toko Smartone beli hape baru, ini hape mau saya hadiahkan untuk Ibu saya rencana nya mau saya titipkan ke teman yang akan pulang cuti bulan ini. Nah.. begitu jalan di depan toko Chandra, saya biasa saja mbak, uang juga ta simpan di tas, emang ramai sekali di depan toko itu kalau hari Minggu, jalan sambil berdesak-desakkan. Begitu sampai di bank BCA, saat mau mengeluarkan uang. Uang itu sudah ndak ada mbak,’’ ungkap Triana sambil menangis.
Begitu mengetahui uang dan hape nya raib, lemeslah Triana. Bisa dibayangkan betapa sedihnya Triana kehilangan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat. Apalagi uang itu didapat dari pinjam dari bank. Tentu kesedihan yang teramat dalam yang dirasakan Triana. Dia juga bingung mau cari kemana, mau mengadu juga ke siapa. Harapannya pupus untuk bisa membayar uang ujian adik adiknya dan hape untuk ibunya. Sedang cicilan bank harus ditanggungnya tiap bulan.

Libur Pertama, Hilang HK$ 3000
Tidak jauh dari depan Toko Chandra, tepatnya di depan Wester Union (hadap hadap-an dengan toko Chandra), Memo juga melihat seorang wanita yang sedang sedih dan dikerubuni banyak orang. Sebagian ada yang menepuk-nepuk pundaknya menenangkannya untuk sabar dan ikhlas. Setelah Memo mendekat, ternyata dia juga mengalami hal sama dengan Triana.
Nama BMI yang sedang apes tersebut adalah Yuyun asal Ponorogo. Dia baru setahun di Hong Kong. Dan pada hari itu adalah libur yang pertama baginya yang diberikan majikannya setelah setahun bekerja. "Ngene Mbak, nembe libur sepisan, kok malah apes, dompet sa’ duite ilang, yo a la,’’ ujar Yuyun dengan bahasa Jawanya, dengan mimik wajah yang sedih. Cuma bedanya, Yuyun "hanya" kehilangan uang HK$ 3000 ( Rp 4-5juta), KTP Hongkong, Kartu Octupus, dan KTP Indonesia.
"Pagi itu, sebenarnya saya sempat gak percaya kalau dikasih libur sama majikan. Maklum mbak selama saya bekerja hampir setahun ini, sama sekali belum pernah libur, dan ini adalah liburku yang pertama, makanya senangnya gak ketulung. Majikanku baik, yang jahat ya itu cuma bobo (nenek) yang aku rawat. Setelah membereskan pekerjaan rumah, saya terus mandi dan pamitan sama majikan, majikan mewanti-wanti untuk hati hati bawa uang, gaji lima bulan saya kumpulin Mbak, selain mau ketemu teman, saya juga mau transfer uang gaji saya untuk keluarga. Makanya begitu turun di bis, saya langsung menuju bank BNI, setelah transfer uang, hati saya tenang, gak semuanya aku transfer. Sisanya tiga ribu aku simpan, mau aku beliin hape dan baju. Lah aku lihat di toko CSL itu hape bagus bagus dan murah. Begitu hape sudah aku ambil dan mau bayar, dompet itu sudah gak ada mbak. Saya kagetnya minta kepalang. Kok bisa hilang padahal saya taruh di depan saku celana levis saya. Kalau ada yang ambil dan menariknya saya pasti kerasa, tapi ini kok gak ya? Nggak sadar blas. Saat itu juga saya langsung ‘’poking’’ (lapor polisi), lapor kalau KTP HK saya hilang. Sama polisi ya ditanyain macam-macam, terus sama polisi dikasih surat penghantar untuk mengurus KTP yang baru di Wanchai sana. Jan lihai tenan maling e kui, kok yo mentolo, gak selamat wong ngono kui, apes aku mbak,’’ ujar Yuyun mengakhiri pembicaraannya dengan Memo,dengan wajah sedih.(uly)
(Triana BMI asal Blitar yg kehilangan uang, sedang menelpon keluarganya)
Terpublikasi di Tabloid Memorandum-Surabaya # 140