Laman

Search

10 Maret 2010

Negeri Para Pendusta


Setiap jengkal tanah di negeri ini penuh dusta. Kemunafikan. Pengkhianatan. Kepengecutan. Kelicikan. Kesombongan. Dusta telah memporak-porandakan negeri ini sampai ke ujung-ujungnya. Merasuk ke dalam sanubari pemimpin-pemimpinnya. Ke dalam setiap jiwa rakyatnya. Ibu-ibu rumah tangga. Suami-suami mereka. Anak-anak mereka. Guru, dokter, dosen, direktur, manajer, seniman, pengacara, jaksa, hakim, tukang becak, peminta-minta, semuanya dikuasai dusta.
==
Bus kota hari ini penuh sesak, tak seperti biasanya. Aku terserak di antara lautan manusia di bagian belakang bus. Sesekali kuusap peluh yang menetes seukuran butiran jagung di dahi dengan saputangan berenda milik ibuku.
Ibu.
Ahh..bayangan makhluk Allah yang paling lembut hatinya itu menari-nari dalam imajinasiku. Beliaulah yang menyemangatiku untuk kuliah sementara mayoritas pemuda di desaku bersemangat untuk meneruskan profesi ayah-ayah mereka : buruh tani.
“Le, kalau kamu jadi buruh tani, keadaan keluarga kita tidak akan berubah. Kalau kamu jadi sarjana, akan lebih mudah buatmu untuk mencari pekerjaan yang layak di kota. Siapa tahu kamu bisa mengangkat nasib keluarga ini, Le.”
Ibuku yang naif.
Ia tidak tahu, tepatnya, tidak pernah tahu bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan bisa mendapatkan pekerjaan. Ribuan orang menjadi pengangguran. Dan kebanyakan adalah lulusan perguruan tinggi dengan embel-embel yang bermacam-macam.
Ibuku tak tahu bahwa syarat mendapat pekerjaan di kota hanyalah tinggal bermodal kemunafikan, kelicikan, dan kepengecutan. Orang yang pandai menjilat bisa jadi lebih cepat mendapat pekerjaan daripada lulusan strata dua yang zuhud dan berhati bersih, seperti Mas Paimo, seniorku di kampus, yang “hanya” menjadi guru bimbel.
Di negeri ini, tak ada orang sukses tanpa dusta dan kemunafikan di hatinya.
==
Parodi.

Ada sebuah parodi yang aneh di bis kota yang penuh sesak ini.
Kondektur gendut yang berwajah masam tiba-tiba mendekatiku. Spontan, aku menjulurkan tiga lembar uang Pattimura. Menyorongkan ke depan wajahnya yang buruk rupa, bengis seperti ingin memberangus habis uang serta tanganku sekalian. Punggung tangan yang gemuk itu langsung bergerak kilat memasukkan lembaran-lembaran itu dalam tas pinggangnya. Aku terus menatap wajah kondektur itu karena seharusnya ia mengembalikan 500 rupiah kepadaku. Karena di sisi kanan bis terpampang jelas tulisan JAUH-DEKAT Rp 2500
Namun si kondektur tiba-tiba saja pergi. Ahh..sudahlah. Apalah arti 500 rupiah bagiku. Sekalian saja beramal. Siap tahu, inilah cara Allah menegurku karena selalu lupa beramal. Lalu, aku memutar pandangan pada seluruh penumpang yang ada di bis ini.
Penuh sesak.
Wajah lelah penuh keringat.
Pengamen dan pedagang asongan yang berebut masuk ketika bus berhenti sejenak untuk memuntahkan dan menelan kembali manusia-manusia yang entah darimana dan akan kemana.
Segerombolan anak-anak SMA. Ibu-ibu gendut yang sedang memangku anaknya.
Sekelompok pria paruh baya yang berpenampilan lusuh. Kelihatannya kuli bangunan. Penghuni daerah urban di perbatasan kota. Seorang nenek tua yang rupa-rupanya baru kembali dari rumah menantunya (bisa kutebak dari wajah sendunya yang kelihatannya habis menangis. Ahh..terlalu banyak kemunafikan yang berakar pada manusia dewasa yang mengabaikan orangtuanya ketika telah beranjak tua). Dan anehnya, tak ada satu pun orang yang memberinya tempat duduk padahal sepertinya ia telah kepayahan berdiri.
Seorang pemuda bertampang aristokrat yang kelihatannya baru pulang dari kantornya entah dimana, sedang memegang telpon genggam dan berbicara tanpa henti entah dengan siapa.
Dan disinilah parodi itu dimulai.
Aku paling senang memperhatikan tingkah manusia. Karena aku pikir, banyak sekali kelucuan, kepolosan, bahkan kemunafikan yang tertera jelas ketika kita sedang memperhatikan seseorang. Korban pertamaku adalah pemuda yang sedang berbicara dengan ponselnya. Pemuda aristokrat itu lamat-lamat kuperhatikan gerak-geriknya. Kupikir ia berponsel dalam rangka urusan kedinasan. Baru kusadari ternyata ia berpura-pura menelepon untuk menghindari kondektur berwajah bengis itu.
Siapa kira pemuda berwajah dan berpenampilan aristokrat itu ternyata tak malu dengan penampilannya, berusaha masuk ke dalam bis, turun di tempat tujuan, tanpa harus membayar karcis. Hal pertama yang dilakukannya ketika si kondektur mendekat adalah berputar dengan elegan, memunggungi si kondektur, serta mengeraskan suaranya ketika berbicara dengan ponselnya. Ia juga melambai-lambaikan tangan kepada kondektur untuk mengisyaratkan bahwa dirinya sedang sibuk, tidak bisa diganggu barang sebentar untuk membayar 2500 rupiah.
Orang-orang yang berdiri di sekitar pemuda itu tidak bereaksi apapun. Padahal mereka tahu. Melihat dengan sangat jelas bahwa ponsel yang digunakan pemuda itu tidak dapat digunakan bertelepon alias mati. Tapi ajaibnya, pemuda itu terus berbicara tanpa henti.
Aku nyaris saja tertipu dengan aksinya, kalau saja aku tidak menyadari bahwa ternyata sambil berbicara dan memunggungi si kondektur, si pemuda mengawasi dari sudut matanya, segala manuver yang dilakukan kondektur dalam rangka menagih haknya. Aku yakin pemuda itu sadar bahwa dialah penumpang terakhir yang belum merasakan terkaman kasar kondektur ketika menyambar uang karcis yang disodorkan. Namun kondektur itu tidak serta-merta menyerah. Ia bergerak kembali untuk melakukan manuver tajam ke arah si pemuda. Ketika si pemuda bergerak berkelit untuk memunggungi kondektur, kondektur segera saja sigap maju ke depan pemuda itu dan memotong gerakannya. Segera saja ia sudah berada di depan muka pemuda itu.
“Karcis, Mas.”
Pemuda itu terjepit. Habislah ia. Tak ada cara lain untuk berkelit. Usahanya untuk menghindar dari kondektur itu gagal total. Akhirnya ia merogoh saku depannya dan menyodorkan selembar lima ribuan.
“Mana kembaliannya?”
Tiba-tiba keadaan berbalik tajam. Si kondektur segera saja menghilang diantara kerumunan penumpang dan tidak lagi mendekati pemuda itu. Pemuda itu sepertinya ingin mengejar si kondektur, namun urung dilakukannya. Tiba-tiba ia bergumam, menggerutu tak jelas. Terlihat kekesalan di wajahnya. Ia melihat jam tangannya sebentar, lalu berpura memencet-mencet ponselnya (padahal kami semua tahu bahwa ponsel itu mati) lalu turun di halte berikutnya.
Oh..betapa ruginya bangsa Indonesia yang membiarkan kemunafikan dan dusta bersemayam di hati mereka. Celaka..celakalah kita. Padahal, laknat Allah dan ampunan Allah senantiasa ada bersama kita. Memberikan pilihan. Surga atau neraka. Pahala dan dosa. Reward and punishment.
Tak ada yang lebih celaka daripada pendusta dan kaum-kaum munafik. Tidak ada yang lebih berat siksanya daripada berdusta dan berkhianat. Tak ada yang lebih rendah daripada sifat sombong dan pengecut.
Wahai bangsa Indonesia! Buka mata kalian! Telah lama hidup kalian dibutakan oleh dusta dan kemunafikan yang ikut mengalir bersama aliran darah di tubuh kalian! Celakalah kalian apabila membiarkan mereka hidup di dalam sanubari kalian!
==
Bis kota terus melaju membelah kota yang suram dan sibuk. Hari ini jam pulang kantor. Jalanan penuh sesak akan mobil-mobil dan motor-motor yang berjalan lambat-lambat. Kuperhatikan mobil-mobil itu. Tak ada satu pun mobil yang jelek ataupun tua. Semuanya keluaran terbaru. Padahal bukan rahasia lagi bahwa negeri kaum pendusta ini adalah negara miskin yang banyak terbelit hutang. Sungguh kutemukan paradoks baru di jalan ini.
Di parkiran belakang perpustakaan kampusku tidak kutemukan hal yang berbeda dengan apa yang kutemukan di jalan ini. Semuanya dipenuhi dengan mobil-mobil mewah. Padahal, semua pemiliknya adalah mahasiswa yang logikanya, belum berpenghasilan penuh. Belum dapat menopang hidupnya sendiri. Sungguh celaka sebuah negeri yang memiliki generasi muda yang hedonis dan tidak zuhud. Celakalah negeri ini apabila dibangun oleh generasi muda yang dibiasakan dengan kecurangan dan dusta dalam tindak-tanduknya (mencontek dan titip absen). Tidak cinta ilmu, bahkan cinta kekerasan (sering kutemui di surat kabar, demo mahasiswa yang seringkali membuat kerusuhan). Banyak bicara dan sedikit bertindak. Di mana otak kalian, hai para intelektual muda! Apa yang telah kalian lakukan untuk membangun negara dan agamamu? Apa yang telah kalian lakukan untuk Allah dan Rasulmu? Kalian tidak ubahnya seperti pemimpin-pemimpin kalian yang cinta dusta dan kemunafikan.
Perhatianku sedikit terganggu dengan teriakan-teriakan nenek tua (yang kusangka telah disia-siakan menantunya) yang memanggil-manggil si kondektur bengis. Namun di sisi yang lain aku mendengar seorang laki-laki mendesah seperti menyesali sesuatu lalu bergumam padaku.
“Bodoh sekali nenek itu. Kalau aku yang jadi dia, aku tidak akan membuang kesempatan untuk tidak membayar karcis. Lumayan lah Mas, bisa jadi tambahan untuk beli rokok.”
Wahai bangsa Indonesia! Jangan larut terlalu lama dalam kemunafikan! Sesungguhnya apabila kalian semakin larut di dalamnya, semakin sulit keluar dari jeratannya!
Akhirnya, dari pernyataan singkat orang itu, aku memang menyimpulkan bahwa nenek tua yang memanggil-manggil kondektur, diakibatkan karena kondektur lupa menagih ongkos karcis. Aku percaya saja, terlebih setelah aku melihat kejadian pemuda berponsel yang bertampang aristokrat itu.
Tak berapa lama, kondektur sudah sampai ke tempat di mana nenek tua itu berdiri. Namun paradoks kembali terjadi. Tak pernah ada yang menyangka, tiba-tiba si nenek berteriak kepada kondektur.
“Hei kumis! Mana kembalian uangku! Bukankah aku telah menyerahkan uang tiga ribuan kepadamu?”
Kami semua tercengang. Ternyata, teriakan-teriakan tadi tidak ada hubungannya dengan akhlak amanah, melainkan hanya untuk menagih kembalian yang hanya 500 rupiah! Padahal tadi aku urung melakukan hal yang sama.
Pikiranku terbang kemana-mana. Sepertinya memang begitu mudah bagi kita untuk menjatuhkan “vonis” atas persepsi kita pada seseorang. Terutama persepsi yang baik-baik. Ada beberapa orang yang selalu menganggap istimewa orang lain. Sedangkan, ia tidak terlalu percaya diri dengan kelebihannya sendiri. Mungkin hal ini disebabkan sikap yang kurang bersyukur atau inferioritas yang meliputi jiwa kita. Kita selalu menganggap diri kita “kurang”. Padahal, bila kita mencermati realita yang sebenarnya, tak jarang orang-orang itu lebih jahat daripada yang kita duga.
Manusia tetaplah manusia. Pengkhianat lagi penipu. Munafik dan pendusta. Di setiap bangsa, di setiap generasi.
Aku jadi teringat peristiwa beberapa hari yang lalu. Ketika itu, aku menjadi salah seorang relawan musibah banjir di Bojonegoro. Pada saat itu, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa dari fakultas ekonomi di universitas yang sama denganku. Penampilannya sangat meyakinkan. Nampaknya ia memang berasal dari keluarga berada. Kulitnya putih bersih dan gaya bicaranya sangat khas. Seperti orator yang bicara menggebu-gebu, menghujat pemerintah.
“Krisis multidimensi yang menimpa negara kita sangat kompleks, Mas. Tapi saya yakin ini efek domino dari sistem ekonomi kapitalis yang menjerat leher negara-negara dunia ketiga. Semua ini gara-gara John Maynard Keynes dengan paham moneternya yang bangsat. Negara-negara maju tak ubahnya seperti lintah darat yang memberikan suntikan dana yang tak akan dapat kita kembalikan walaupun sudah kerja tujuh turunan. Uang..uang..uang..dan selalu saja uang. Kapitalis adalah kepanjangan materialisme, Mas. Tujuan hidup kebanyakan orang sudah mlengse. Inilah akibat yang paling saya benci. Lain halnya apabila kita menerapkan ajaran klasik Adam Smith. Lapangan kerja, fasilitas umum, pendidikan, inilah yang seharusnya kita butuhkan. Selama ini kita dibodohi oleh mantri hewan yang menyaru sebagai dosen ekonomi itu. Oh, betapa celakanya kita bangsa Indonesia. Seharusnya kita dapat….”
Rupanya ia adalah calon ekonom pemuja mahzab klasik milik ekonom gaek Amerika Serikat, Adam Smith. Seorang anti Keynesian. Ketika kutanya berapa IP terakhirnya, ia hanya menjawab malu.
“2,79 Mas. Tapi menurut saya, kepandaian akademis bukan berarti jaminan sukses. Yang penting saya mengerti pondasi dasar ilmu ekonomi. Saya bisa mengabdi langsung kepada masyarakat.”
Jawaban yang bijak sekaligus tragis. Di negeri kaum munafik, nilai akademis adalah segalanya, Bung! Tidak ada orang tua yang bangga memiliki anak yang gagal mendapat prestasi yang baik di sekolah, walaupun memiliki bakat yang besar untuk menjadi pemain biola yang andal! Tak ada orang tua yang bangga memiliki anak yang berusaha membangun bisnisnya sendiri! Menjadi seorang wiraswasta. Bukan manusia bermental pegawai. Entah apa yang salah dengan orang-orang tua di negeri kaum pendusta ini. Mereka lebih senang anaknya jadi pesuruh orang lain daripada membuka lapangan kerja sendiri.
Sungguh tragis! Ironis!
Oh, betapa celakanya hidup di negeri yang setiap jengkal tanahnya berbau dusta! Celakalah manusia yang hidup di negeri yang dimana kemunafikan merupakan komoditas yang utama! Celakalah negeri yang membolehkan pornografi, pornoaksi, minuman keras, kemalasan, kebodohan, kesombongan, dan kemunafikan berdekatan dengan setiap generasi mudanya!
Muhammad ya Rasul…betapa kami rindu petuah-petuahmu. Kami capai dengan pemimpin-pemimpin kami yang jauh dari tuntunanmu. Dengan hati yang busuk oleh kemunafikan!
Aku mohon ampun ya Allah!
Mohon ampun…karena aku yakin, tak ada satupun manusia penduduk negeri kaum pendusta yang hidup tanpa kemunafikan di setiap tetes darahnya.
Andai aku mengatakan selain hal ini, tentunya akulah guru besar pendusta dan munafik.
Di negeri kaum pendusta.
Rizqy Amelia Zein
Di Bumi Kaum Pendusta
11/03/2010