Laman

Search

10 Maret 2010

Kuhapus Tetesan Air Liurmu


Tak mudah memang, menghapus masa lalu dari hidup kita, seperti air liurmu yang masih menetes di pinggiran bibir mungilmu. Kuhapus langsung mengering, tak lama kemudian akan menetes lagi dan membasahi leher dan dadamu. Berulang kali harus kuganti bajumu yang telah basah oleh tetesan air liurmu. Terkadang membuat kesal dan emosi harus selalu menggantinya untuk menghindari lembab dan ingin selalu terlihat rapi bersih, terlebih lagi aku takut kamu masuk angin. Entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini. Entah sampai kapan pula kau harus kesusahan menelan air liurmu dan menelan makanan secara baik?
Aku tak perduli walau harus kutahan rasa miris dan sedih bila melihat pandangan orang-orang yang melihat kondisimu. Entah jijik, entah iba, atau biasa-biasa saja dengan tetesan air liurmu. Yang pasti hanya segelintir orang yang mau memaklumi kondisimu. Hanya segilintir orang yang mau rela menghapus air liurmu dengan tangan atau saputangannya tanpa rasa jijik, bahkan hanya segelintir orang yang mau menggendongmu untuk membantumu berjalan dan menuntunmu melangkah tanpa sungkan akan terkena tetesan air liurmu. Aku tahu kau tak perduli dan tak merasa apa apa dalam hatimu. Tak kau pikirkan apa yang telah orang- orang itu lakukan dan penilaian atas dirimu. Kau hanya akan tertawa riang bila dekat dan berada di sekitar orang-orang  yang mengasihimu, mengerti kondisimu, dan sayang akan keberadaanmu yang tak senormal anak lainnya. Namun kehadiranmu kerap menjadi keringan dan keindahan yang tercipta meski kakimu belum mampu melangkah sendiri dan mulutmu belum selantang tangismu, namun kamu masih bisa memberi keceriaan.
Keberadaanmu adalah kehendak Sang Ilahi yang tak seorang manusia pun mampu mengubahnya atau menolak kehadiranmu. Meski kau hadir dalam bentuk kekuranganmu namun semua pasti ada arti dan hikmah di balik semua yang ada dalam dirimu. Kusayangi engkau apa adanya. Dengan kata”walaupun” kuterima keberadaanmu sebagai titipan ilahi yang Ilahi percayakan atas diriku. Keberadaanmu dengan tetesan air liurmu banyak memberi hentakan dan teguran untuk orang orang yang menyadari dan sadar akan dirinya. Jangan risau, Nak. Selagi kakiku kuat melangkah akan kubawa dirimu melangkah. Selagi masih kuat tangan ini akan kutuntun dirimu dan kuhapus tetesan air liurmu dengan penuh kasih sayang tulus dariku.