Laman

Search

04 Maret 2010

Nasib TKW di Arab Saudi : Kabur Dari Majikan, Terperangkap Germo


Anah, 23 tahun. Wanita cantik berkulit putih ini malam itu masuk ke kantor Daerah Kerja Madinah dengan wajah sembab.
Anah yang asal Indonesia ini bercerita, telah diusir dan ditinggalkan begitu saja di kantor tersebut oleh tiga iparnya yang orang Arab.Tampak sekali kebingungan di wajahnya. Suaminya masuk rumah sakit dan kini dia terusir dari rumahnya. Berikut kisahnya:
Saya datang ke Arab Saudi pertama kali pada 2002. Awalnya saya bekerja sebagai pembantu di rumah seorang pejabat kepolisian.
Mulanya saya hanya bertugas memasak. Gaji yang 600 riyal (Rp 1,5 juta-Red) saya rasa sesuai dengan beban pekerjaan. Apalagi untuk semua urusan belanja, saya dipercaya mengelolanya.

Namun ketika nyonya rumah melahirkan dan punya bayi, pekerjaan bertambah mengurus anak juga. Beban pekerjaan bertambah, tetapi gaji tidak ditambah.


Sampai suatu ketika ada kenalan orang Ethiopia yang menawari pekerjaan yang katanya bergaji lebih bagus.

Dia mengatakan, kerjanya sama mengurus rumah dan digaji 1.000 riyal (Rp 2,5 juta). Tentu saja saya tertarik dengan tawaran ini. Akan tetapi, saya tak mungkin bilang kepada majikan saya yang baik ini. Saya juga tak mungkin meminta surat-surat keterangan saya kepadanya.

Namun tawaran gaji yang cukup besar tadi, membuat saya nekat. Saya kemudian kabur dan dibawa teman tadi ke majikan baru. Pada mulanya memang bekerja mengurus rumah. Sungguh tak mengira kalau majikan wanita ini ternyata seorang germo dan pelacur.


Dia rupanya tak hanya bermaksud menjadikan saya pembantu di rumahnya, tetapi juga ingin menjadikan pelacur.

Dia memaksa saya dan memukuli agar mau melayani tamu-tamunya. Tak mau bekerja yang tak benar, belum satu bulan di sana saya keluar.
Untunglah ada seorang pria Arab yang baik hati mau menolong. Namanya Sultan, 32 tahun, dan dia masih membujang. Dia menawari bekerja di tempat pembuatan visa di Madinah dan dijanjikan gaji 800 riyal per bulan. Saya senang sekali. Apalagi Sultan kemudian menyilakan saya tinggal di rumahnya. Saya tidur di kamar lantai satu. Sementara itu, ibu Sultan dan kakak-kakaknya di lantai dua. Oh ya, Sultan punya dua kakak perempuan dan satu adik laki-laki.


Selama delapan bulan bekerja sangat senang. Sultan sangat baik dan menghormati. Saya juga respek dengannya. Dia menyimpankan gaji saya. "Supaya tidak hilang," katanya. Rupanya kami kemudian saling jatuh hati. Sultan kemudian meminta saya menjadi istrinya.

Saya bingung. Untuk menikah dengan orang luar, hukum negara mengharuskan suami yang orang Arab itu menunjukkan paspor atau surat-surat keterangan calon istri. Akhirnya, kami berdua pergi ke Jeddah. Kami menikah siri di sana. Sungguh sangat bahagia bersuamikan Sultan. Saya sangat mencintainya seperti dia juga menyayangi saya.

Bagaimana tidak bahagia. Saya sendirian di negara orang. Setelah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kini ada orang yang melindungi saya.

Menentang Keras


Namun, rupanya kebahagiaan tak bisa lama. Ketika kembali ke rumah di Madinah, rupanya keluarga Sultan menentang keras pernikahan kami.
Ibunya ingin Sultan menikah dengan wanita yang masih saudara jauh. Dia telah menjodohkan anaknya itu. Namun Sultan tetap bersikukuh, dan menyatakan bahwa dia mencintai saya.

Sultan kemudian memperbaiki kamar di lantai tiga, dan saya kemudian tinggal di situ. Setiap bulan dia memberi saya 500 riyal untuk jatah masak kami berdua.

Namun persoalan tetap tak berlalu. Ibu dan kakak-kakak ipar selalu sinis. Apalagi kalau Sultan sedang tak ada di rumah. Mereka sering mengumpat saya sebagai pelacur yang akan merusak anak dan adik mereka. Saya sedih sekali dengan perlakuan ini. Tapi mau apa? Untunglah sikap Sultan yang lemah lembut sungguh menenteramkan hati.

Sampai suatu ketika suami pamit akan ada urusan di Jeddah selama sehari. Saya sungguh ingin dia segera pulang dan berada di samping saya. Namun sampai tiga hari, dia tak pulang juga. Saya benar-benar bingung. Saya tanya ke Nur, karyawan dia, ternyata tak tahu.

Baru hari keempat Sultan datang. Masya Allah, badannya penuh luka, kakinya bengkak dan memakai kruk. Dia bercerita, setelah urusan di Jeddah selesai langsung ke Yaman untuk urusan lain. Pulang dari sana, di jalan rupanya mobilnya terguling. Mobilnya rusak parah, Sultan terlempar keluar dan Hp-nya hancur. Dia dibawa ke rumah sakit di Jeddah. Namun dia tak mau mondok lama, karena takut saya mengkhawatirkannya.

Dia akan mondok di rumah sakit di Madinah, dan dokter sepertinya akan mengoperasi kakinya yang patah.

"Anah, kamu jangan pergi ke mana-mana ya. Tetap saja tinggal di kamar ini. Kalau ada perlu apa-apa minta tolong saja sama Nur." Saya kemudian mengantar Sultan ke bawah. Saya mencium pipinya dan memeluknya sebelum dia pergi. Ibu Sultan yang melihat ini langsung teriak, "Hei, sudah jangan berlaku yang tidak pantas begitu. Pikir saja kakimu supaya cepat sembuh."
Saya kemudian memang lebih sering tinggal di kamar. Untunglah Dewi, pembantu ibu Sultan, menemani. Kedua kakak Sultan sering mencari-cari kesalahan dan berusaha mengusir.




Malam itu saya baru mengobrol dengan Dewi, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Rupanya dua kakak perempuan dan adik laki-laki Sultan. Mereka kemudian menyeret saya keluar.

Saya berusaha berontak, tetapi tenaga adik Sultan yang berbadan besar lebih kuat. Pintu kamar kemudian dikunci. Saya kemudian dibawa mereka dengan mobil. Semua pakaian dan buku catatan tak bisa dibawa. Hanya pakaian yang melekat ini saja. Mereka kemudian meninggalkan saya begitu saja di depan kantor ini (Daker Madinah-Red). Bingung. Mau menelepon Sultan, Hp-nya hancur waktu kecelakaan. Saya juga tak tahu di rumah sakit mana dia sekarang dirawat.

Mencari Rumah


Anah mengakhiri ceritanya dengan berurai air mata. Tergerak untuk mengetahui kebenaran ceritanya dan juga membantu mendapatkan kembali pakaian dan bukunya, saya mengajak Mu'in, sopir Media Center Madinah, untuk mengantar Anah mencari rumahnya.


Kami kemudian mencari di sekitar Masjid Quba di Madinah. Anah rupanya bingung. Dia merasa rumahnya di sekitar daerah itu. Namun, bentuk bangunan yang hampir serupa semua membuatnya kehilangan arah.


Dia kemudian meminta diantar ke sekitar Rumah Sakit Madinah Watoni. Namun, daerah yang dituju tak sampai juga. Akhirnya kami putuskan kembali ke Madinah. Memang sulit membuktikan apakah cerita Anah benar atau tidak. Akan tetapi keresahan yang tampak di matanya bagi saya sudah menjadi bukti kebenaran ceritanya. Apalagi, dia berniat benar ingin mencari kembali suaminya.

 (Bagas Pratomo dari Madinah)