Laman

Search

27 Februari 2010

Nasib Pekerja Wanita Indonesia di Malaysia: Ditampar, Tidak Digaji dan Diperkosa Ramai-ramai

Sepertinya, Malaysia tidak akan pernah menghargai pekerja asal Indonesia yang bekerja di negaranya. Berbagai bentuk kekerasan mereka lampiaskan kepada pahlawan devisa negara berbendera Merah putih tercinta ini. Tidak terima dengan ketidak adilan, mereka memilih melarikan diri, hingga akhirnya di pulangkan ke Indonesia oleh pihak KJRI Indonesia. Bagaimana pengalaman mereka di negara yang mereka anggap sebagai "neraka" tersebut?

Aisyah, 28, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Semarang melarikan diri sejak 48 hari lalu dari rumah majikannya di Batu Pahat, Malaysia karena merasa tidak dianggap sebagai manusia. "Saya sering ditampar oleh kakak sang majikan bernama Meymey, saya tampar balik lagi dia. Jangan mentang-mentang saya pembantu asal Indonesia, diperlakukan kasar layaknya binatang," ujar Aisyah sambil menopang dagu melihat langit-langit rumah penampungan dinas sosial di Sekupang sambil merenungi nasibnya yang malang.


Dia mengemukakan awal keberangkatannya dari rumahnya di Anggrek III Semarang, Oktober 2008 lalu. Kala itu wanita yang baru ditinggal mati suaminya bernama Rudiaynto tersebut, tidak tahan lagi menjadi ibu rumah tangga yang membebankan hidup mereka kepada kedua orang tuanya. Sehingga dia berpikir untuk mencari kerja dan merubah nasib kearah yang lebih baik dengan jalan yang halal. "Sebelumnya suami tidak mebolehkan saya kerja, karena harus mengurus anak. Namun setelah kepergiannya, orang tua saya yang hanya seorang buruh bangunan, tidak mungkin saya bebani lagi. Akhirnya saya berpikir cari kerja dengan merantau, sementara anak-anak saya tinggal di rumah orang tua," ujar mengenang masa kelamnya dimulai.


Aisyah pun diberangkatkan oleh perusahaan penyalur tenaga kerja di Semarang, PT Andika. Tidak lewat dari satu minggu,Aisyah terbang ke Malaysia dan  sesampai nya di bandara Kuala Lumpur, dia dijemput agen dan langsung dipekerjakan menjadi seorang pembantu rumah tangga. Dalam perjalanan agen tersebut menjanjikan gaji sebesar 550 ringgit setiap bulannya dengan menjadi pembantu rumah tangga sepasang suami istri dengan lima orang anak. Namun siapa nyana, sesampai di rumah majikannya bernama Chece, dia pun harus melayani 12 orang anggota keluarga tersebut. "Awalnya saja sudah tidak mengenakkan dan merasa dibohongi," ujar Aisyah.

Dia pun memilih diam dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga mulai dari mencuci pakaian ke 12 orang tersebut, memasak, dan lainnya bahkan diminta kerja menjalankan usaha kedai majikan tanpa dibantu. "Kalau saya melawan dan membantah sedikit saja, pasti tamparan dan hinaan hasilnya," 
ujar Aisyah sambil melap peluh dikeningnya.

Dia juga mengaku, selama lima bulan dia bekerja, tidak pernah sekali pun dia menjamah apa yang menjadi hasil keringatnya. "Katanya gaji saya dipotong untuk membayar utang pembiayaan dokumen keberangkatan saya kesini oleh agen penyalur di Indonesia dan agen penerima di Malaysia. Pada hal perjanjian pemotongan hanya 50 persen dari gaji setiap bulannya selama enam bulan," ujar Aisyah.

Demikian juga, perlakukan tidak manusiawi kerap diterimanya. Kala itu dia mendapat kabar dari kampung halamannya, anak laki-laki satu-satunya bernama Attira,4, meninggal dunia karena sakit. Dia meminta izin kepada sang majikan, namun apa yang diperoleh yakni hinaan dan tamparan. "Saya sedih, anak yang kulahirkan tidak dapat kulihat saat hari terakhirnya di dunia. Malah mendapat cacian di negeri neraka itu," ujarnya menahan tangis.

Rasa sakit hatinya mencapai puncak nadir kala dia dipaksa mertua majikan menyiram bunga, pada hal saat itu dia masih mencuci pakaian seluruh anggota keluarga tersebut. "Saya mau akhirnya, disitu saya berpikiran lari. Ketika penghuni rumah lengah, saya sengaja tidak mematikan keran air supaya ketika membuka pagar rumah berlantai dua bercat putih tersebut, tidak kedengaran. Saya langsung melarikan diri tanpa membawa apa-apa. Semua barang saya tinggal di rumah itu. Intinya, dalam benak saya kala itu, aku pingin pulang melihat pusara anak saya, itu saja," ujarnya.

Dalam pelariannya, Aisyah mengaku berada di rumah warga Melayu bernama Supartiah selama satu minggu, hingga akhirnya dia pergi ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di Johor Bahru. "Perjalanan yang lumayan jauh, namun tidak apa-apa demi mencari keselamatan dan ingin pulang," ujarnya.

Sementara itu, hampir sama dengan Aisyah, Siti Khadijah, 23, wanita asal Kebumen ini awalnya ingin mencari nafkah juga di Malaysia, namun apa yang diterima malah mendapat musibah yang menyedihkan.

Selama empat tahun bekerja sebagai pelayan restoran di Malaysia, sekitar Desember 2007, dia diminta sang majikan etmpatnya bekerja melayani tamu melakukan pesta minuman keras, dia dipaksa untuk ikut minum hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

"Saya sadar, saya sudah diruangan yang berbeda yang belakangan saya ketahui rumah sakit dengan kondisi lemas dan tidak berdaya. Kata dokter rumah sakit, saya dianiaya dan disuruh membuat laporan kepada kepolisian Diraja Malaysia," ujar khadijah mengenang.

Dengan ditemani pihak kepolisian Malaysia dan Konsulat Jendral (Konjen) RI di Malaysia, Siti mendapat kabar yang tidak menyenangkan bahwa dirinya telah diperkosa beramai-ramai. Melalui Close Circuit Television (CCTV) akhirnya diketahui bahwa ia diperkosa oleh 3 orang, 1 orang berkebangsaan Indonesia dan 2 orang berkebangsaan China, hingga akhirnya dia hamil, dipulangkan ke Indonesia dan melahirkan.

Sumber : CahayaSimanjuntak