Laman

Search

23 Januari 2010

Pergi Mencari Devisa, Pulang Membawa Derita (Pemerintahnya Pecundang, TKW nya Pahlawan ! Bag.II)



TKW adalah Tenaga Kerja Wanita. Atau TKP alias Tenaga Kerja Perempuan. Ya, Indonesia hingga detik ini masih rajin mengirimkan TKW ke luar negeri. Karena memang menghasilkan keuntungan buat negara. Fenomena TKW ini juga terjadi karena di negeri asalnya, mereka para TKW sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Kalau pun harus bekerja, tidak lepas dari pungutan liar yang tidak rasional. Pekerjaan TKW barangkali menjadi alternatif terakhir.

Saya ingin bereksplorasi dengan penyebab lain kenapa wanita menjadi TKW. Ternyata ada motif lain dari kepergian seorang perempuan menjadi TKW. Karena suaminya mengkhianati cintanya, sang istri menjadikan profesi TKW diluar negeri sebagai pelarian.
Jadi ada semacam pengkhiatan baik dari negara yang sepaputnya memberikan lapangan pekerjaan buat mereka, maupun dari sang suami (atau pacar) yang sepatutnya memberikan kesetiaan yang baik buat istrinya (pacarnya). Jadi hanya sebuah pelarian dari masalah yang dihadapi.
Motif yang lain berkaitan dengan aktualisasi diri. Mereka ingin menunjukkan kalau dirinya bisa bekerja mencari nafkah dengan cara menjadi TKW. Aktualisasi diri ini anehnya, justru ditempatkan pada ruangan dimana ia tidak akan bisa bergerak dengan bebas, karena menjadi TKW sesungguhnya sudah terperangkap dalam alur keinginan majikan.
Aktualisasi diri telah salah ditempatkan sehingga membiarkan diri terperangkap dalam sistem yang memborgol dirinya. Atas nama aktualisasi diri, mereka tak jarang menolak nasehat bijak orang tuanya. Akarnya adalah sikap gegabah, sok tahu dan tidak mau tahu.
Bisa jadi profesi TKW di luar negeri karena faktor “paksaan” dari pihak otoritas dalam keluarga. Yakni orang tua. Mereka memperalat anaknya untuk menghasilkan uang buat membantu ekonomi keluarganya.
Atau juga pihak suami yang memperalat istrinya untuk memproduksi uang buat menopang ekonomi keluarga. Kenapa sih orang tua tidak bertanggung jawab untuk melindungi anaknya dari marabahaya dan kenapa juga si suami tidak peduli sama istrinya. Boboraah ngasih kesetiaan, yang ada justru mengkhianatinya dan menjualnya.

Orang-orang yang gegabah, sok tahu, kalut, tertekan,  dan terkhianati adalah orang-orang yang menderita meskipun yang lebih menderita lagi adalah mereka-mereka yang menyebabkan penderitaan buat orang lain.
Dalam kondisi kekalutan ini, mereka kemudian menjadi target empuk bagi calo-calo yang berkeliaran mencari mangsanya. Gayung pun bersambut. Iming-iming dan impian-impian dimunculkan lalu dimasukkan dalam benak mereka.
Disinilah akan terjadi mata rantai tarik menarik kepentingan yang besar sehingga pengiriman TKW tidak akan berhenti, cenderung diawetkan dan disuburkan. Kebodohan, kemiskinan akan menjadi komoditas bisnis bagi mereka yang cerdik tapi licik.
Jika berbicara tentang kondisi TKW, maka juga berbicara tentang risiko yang terjadi. Menjadi TKW, tentu saja disana ada impian dan harapan agar ekonomi keluarga membaik. Namun harapan ini tidak selalu mulus, karena tidak sedikit kenyataan yang dihadapi justru sebaliknya. Hak-hak mereka seringkali dicibirkan bahkan diekploitasi.
Mereka para TKW tidak tahu harus pergi kemana, karena proteksi hukum pun ternyata sesuatu yang sangat mahal sekali buat mereka. Mereka juga mungkin tidak terlalu yakin kalau pihak yang memberi rasa keadilan bisa memberi rasa keadilan buat mereka, karena tidak sedikit kasus kejahatan justu dilakukan oleh para penegak hukum.
Memang diantara TKW ada yang menggapai kesuksesan. Namun kesuksesan ini perlu dipelajari lebih dalam lagi mengingat banyak kasus yang terjadi bahwa TKW mendapatkan Uang tambahan karena ia memberikan “pelayanan” yang bagus buat sebut saja majikannya. Ini artinya, keberhasilan semacam itu adalah keberhasilan semu karena uang yang didapat bukan karena kecerdasannya dalam bekerja tapi dengan jalan pintas “menjual diri”.
Sikap menjual diri ini pada akhirnya menimbulkan opini publik dikalangan majikan bahwa TKW asal indo memang murahan. Akhirnya setiap TKW dari Indonesia dianggap murahan. Ini adalah sebuah generalisasi yang sangat merugikan, karena TKW yang baik pun kemudian harus menanggung stigma yang sama.
Saya lalu berfikir sejenak, bukan kah branding Islam menjadi terpuruk karena telah disalahgunakan oleh segelintir orang. Begitu juga nama TKW indonesia akan tercoreng dengan mudah hanya karena segilintir TKW yang ingin kaya dengan jalan pintas via “menjual diri”. Saya bertanya apakah sikap menjual diri ini sangat berkaitan dengan kebodohan, kekalutan dan pelarian karena telah dikhianati oleh pasangan dinegeri asalnya? Kasihan sekali.
Saya berfikir, kalau kesuksesan itu terjadi hanya karena ada “pelayanan khusus” dari seorang TKW buat majikannya, maka kesuksesan yang betul-betul murni dari kecerdasan dan keringatnya dalam bekerja sesuai profesinya sebagai pembantu rumah tangga, nampaknya menjadi hal yang sangat sulit.
Apalagi kalau kecenderungannya bahwa status mereka dianggap sebagai property milik mereka, keberadaan mereka akan lebih banyak harus larut dan tunduk dalam irama dan alur keinginan majikan. Kasihan sekali para TKW itu.
Saat TKW itu mengirimkan uang. Uangnya justru disalahgunakan sang suami untuk memenuhi aspirasi jangka pendeknya. Alangkah bodohnya jika TKW itu mengirimkan uangnya kepada suami yang dulu mengkhianati cintanya. Seakan-akan TKW itu tidak tahu tabiat asli suaminya. Doyan selingkuh. Sebuah sikap yang tidak jantan dan tidak bertanggung jawab. Alangkah piciknya jika selingkuh ini dilakukannya karena merasa dirinya jantan. Sebuah kesalahan paradigmatik yang kronis.
Saat TKW itu pulang, di perjalanan, ternyata dihadang pula oleh para calo dan pungutan sana sini. Anggapan bahwa orang yang baru pulang dari Saudi atau apapun negaranya pasti menggondol banyak uang ternyata sudah merasuk kuat dibenak para calo bandara.
Mereka tidak tahu kalau para  TKW itu harus menguras keringatnya bahkan selama 24 jam dalam ruangan yang begitu sumpek di isi sama tuan dan nyonya yang berlagak bak raja dimana titah dan suruhannya harus di gugu dan tidak boleh diganggu gugat setitikpun.
Apakah ketika keluar dari perangkap, para TKW itu harus pula dibebani dengan perangkap-perangkap lain? Apa kah ia harus dipungut uangnya hanya karena berlabel TKW? Sadarkah bahwa memungut uangnya sepeserpun adalah bentuk kejahatan baru? Tidak adakah cara lain untuk membahagiakan mereka? Bukankah lebih baik menyambut mereka senyuman dan memberikan selamat sebagai penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam membantu devisa negara.
Nampaknya para TKW ini , kasihan yang jarang dikasihani.
Oleh karena itu, kasihanilah mereka dan berikanlah mereka pencerahan untuk membangun kehidupannya dikampung agar bisa mandiri dan menyadarkan tetangganya bahwa bekerja mandiri dengan penuh keuletan lebih enak daripada harus bekerja buat sang raja.
Karena diperjalanan menuju rumah raja pun banyak sekali duri-duri yang mengintai dan mencoba menusuk…..untuk menghindarinya duri-duri dalam diri harus lebih dulu ditumpas agar apapun yang terjadi didepan mata bisa diatasi dengan pikiran yang rasional, kuat dan matang. So, kasihanilah mereka dengan pendidikan akan dignit.

(itsme231019)