Laman

Search

25 Januari 2010

Maka Terbukalah Pintu Langit Bagi Sang Pecinta !



Apakah Anda mengenal kisah cinta tragis antara Qais dan Laila, yang dikenal dengan Laila-Majnun? Kiranya, kisah yang menunjukan betapa dahsyatnya cinta itu sudah mendunia. Pada perkembangannya, cinta yang 'tergila-gila' itu mengilhami beberapa kalangan sufi, yang menjunjung tinggi doktrin cinta dan kerinduan pada Tuhan. Hebatnya, berawal dari sini, bisa membangkitkan beragam keajaiban.

Kisahnya sendiri berawal dari Qais, anak seorang ketua suku dari sebuah kabilah Arab terkemuka. Ia jatuh hati pada Laila, seorang puteri kabilah lain, yang dikenal sangat jelita. Sayangnya, percintaan dua sejoli itu tidak mendapat restu dari orang tua Laila. Hingga mereka pun terpisahkan jarak.

Dalam keadaan yang demikian, Qais tak henti-henti berusaha ingin berjumpa dengan pujaan hatinya itu. Ia mendendangkan syair-syair pujian, tentang cinta, kerinduan dan lain-lainnya yang menyiratkan perasaannya pada sang kekasih hati. Pada perkembangannya, hubungan di antara keduanya pun membentur dinding tebal, karena Laila diungsikan orang tuanya ke suatu tempat yang tak mungkin dijangkau Qais. Berawal dari sinilah, Qais mulai berubah. Perilakunya semakin hari semakin tidak terkontrol. Setiap saat, kata yang keluar dari mulut, serta yang mengisi hatinya hanya satu nama: Laila semata. Lambat laun, nama Qais berubah menjadi Majnun, berarti gila.


Suatu ketika, Majnun ditolong seorang sahabatnya untuk mengambil Laila dari orang tuanya. Kabilah orang tua Laila diserbu. Tetapi, begitu Majnun melihat mereka dibantai, hanya untuk mengambil Laila, maka Majnun tidak tega. Ia mengatakan, bagaimana ia harus membunuh keluarga orang yang ia cintai, dan membuatnya menderita. Akhirnya, Majnun pun tidak setuju dengan cara sahabatnya dalam menolongnya. Ia akhirnya berpisah dengan sahabatnya karena cara menolongnya tidak menunjukan betapa cintanya Majnun pada Laila. Katanya, jika ia mencintai Laila, tidak mungkin ia membuat Laila menderita.


Majnun akhirnya mengasingkan diri ke goa-goa, yang hanya bisa dicapai dengan menembus padang pasir yang luas, dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya. Siang dan malam tak henti-henti, Majnun selalu mendesiskan nama Laila dari bibirnya. Usut punya usut, ternyata Laila juag memendam rindu pada Majnun. Hanya saja ia bisa menahan diri.  Meski demikian, akhirnya ia tidak kuat,  dan meninggal dunia. Begitu mendengar kekasihnya meninggal, Majnun pulang dari pengasingan. Ketika datang, ia hanya dapat menemukan pusara Laila yang masih berupa gundukan tanah basah. Ia akhirnya terus berada di pusara kekasihnya itu hingga beberapa hari, dengan terus menangis dan menyebut nama Laila. Pada akhirnya, Majnun pun meninggal di atas pusara Laila.


Bagi sebagian kalangan, bisa jadi cinta Majnun pada Laila adalah cinta duniawi. Tetapi, ternyata kualitas cinta Majnunlah yang membuatnya berbeda. Sebab, cinta dan kerinduan Majnun adalah cinta yang benar-benar tanpa pamrih, ihlas dan rela berkorban dengan tulus. Banyak sufi yang berguru padanya tentang masalah cinta itu. Salah satu diantaranya adalah Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi wanita dari Basra yang memiliki berbagai karomah dan keajaiban. Rabiah mengganggap hubungannya dengan Tuhan, seperti cinta Manjun pada Laila. Cinta sepasang kekasih yang selalalu dirundung rindu.


Tak heran, di antara para sufi itu, berkembang kisah-kisah yang terkait dengan sosok Majnun. Tercatat, ada seorang sufi terkemuka yang dalam tidurnya pernah berjumpa dengan Majnun. Dalam mimpinya itu, ia melihat Majnun mencapai kemuliaan tertinggi di sisi Allah, karena kebesaran cintanya. Sufi tersebut melihat Majnun bersimpuh di kaki Allah, sedangkan Allah pun dengan tak henti-henti mengelus-ngelus rambut Majnun, sambil berkata: “Majnun, kenapa kau selalu menyebut namaKu dengan  Laila?”


Bisa jadi, cinta yang sama jualah yang pernah hinggap dalam diri Al Bushiri, seorang penyair Arab dan penulis syair-syair  Burdah yang terkenal. Ia begitu cinta pada Rasulullah. Karena saking cinta dan rindunya Bushiri ingin bertemu dengan Rasulullah, ia selalu menangis setiap hari. Karena terlalu sering menangis, hingga kedua matanya buta.


Pada saat buta itulah, ia mengarang syair-syair Burdah yang menggambarkan rasa cinta dan rindunya pada Nabi. Tak heran, bila Burdah Al Bushiri itu dibaca dengan khusyu' dan penuh rindu, baik itu dalam sebuah perayaan keagamaan atau Maulid Nabi Muhammad, maka diyakini Rasululllah akan datang ke majelis tersebut. Hal itu semata-mata karena tuah dari Burdah Al Bushiri, yang kala menulisnya memang menggunakan segenap perasaan, sepenuh jiwa.

Demikianlah. Kekuatan cinta memang luar biasa. Ia bisa menjadi kunci pembuka pintu langit. 


(Salam Redaksi Tabloid Memorandum-Surabaya # 132)