Laman

Search

08 Januari 2010

Mimpi Buruk Masih Membayangi Perjalanan TKI !



Masih ingat kasus penyiksaan oleh majikan yang dialami Nirmala Bonet, Ceriyati dan Siti Hajar? Di Arab Sudi 22 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terancam hukuman berat. Dibalik senyum pekerja Indonesia mendulang nasib ada bahaya yang mengancam. Lemahnya perlindungan TKI di luar negeri disinyalir menjadi penyebabnya. Lantas bagaimana peran Pemerintah !. Mimpi manis mendulang dollar , real, ringgit, kini berubah menjadi mimpi buruk yang terus menerus menghantui TKI diluar negeri.
Kabar terakhir sekitar 22 orang TKI di Arab Saudi terlibat berbagai masalah hukum, seperti hukuman pancung. Merilis data Migrant Care (2008-2009), tercatat 105 lebih pengaduan tentang nasib mengenaskan TKI yang bekerja disektor rumahtangga di Malaysia, Timur Tengah, Singapura dan Hong Kong.

Berdasarkan kenyataan tersebut, muncul pertanyaan , kenapa menjadi TKI meski tanpa keahlian dan keterampilan , tetap menjadi pilihan ?. Dibanyak daerah di Indonesia , menjadi TKI adalah cara primadona atau cara tepat mengubah nasib ekonomi.

Sekedar diketahui, bekerja pada sektor domestik diluar negeri, telah dilakukan sejak akhir tahun 1960-an. Ketika itu resesi hebat menguncang perekonomian Nasional, sehingga kesempatan bertahan hidup di Indonesia makin sempit. Dengan keterampilan seadanya dan  terkadang tanpa modal sepeser pun, banyak WNI yang berlayar menuju Malaysia dan Hong Kong.

Ironisnya seiring perubahan ekonomi dan politik , tidak dibarengi dengan perubahan mekanisme pengiriman dan perlindungan terhadap TKI , sehingga menyulitkan TKI itu sendiri.TKI yang bekerja disektor rumah tangga lebih rawan diperlakukan semena mena oleh majikan yang memperkerjakan TKI tersebut.