Laman

Search

09 Januari 2010

Berteman Sesama BMI Membawa Petaka : Dijadikan Saksi Bank Terus Di-PHK !



Berteman tak selamanya indah, ada yang datang karena kita beruang, ada yang dekat karena kita hebat. Ada pula yang menghampiri karena mempunyai maksud tertentu. Juga ada yang berteman lama harus bubar hanya karena masalah uang. Dan bukan rahasia lagi bagi buruh migrant Indonesia (BMI) yang bekerja di Hong Kong (HK), hampir mempunyai masalah yang pelik dengan teman sendiri dan penyebabnya juga tak jauh jauh yaitu urusan utang-piutang, pinjam uang di salah satu bank financial atau dijadikan saksi. Makanya tak heran urusan satu ini sering terjadi permusuhan antar teman sendiri. Dan resiko yang paling besar, jika sampai majikan tahu harus siap segala resikonya yaitu harus kehilangan pekerjaan karena di-interminit (PHK)


Seperti yang Memo temui baru baru ini, seorang BMI asal Cilacap bernama  Indah (24). Ia baru 3 tahun bekerja di rumah majikannya yang berada di Taiko Shing namun kini harus menanggung utang temannya karena dijadikan saksi di salah satu bank. Yang tragis,  Indah juga harus ‘angkat kaki’ dari rumah majikannya, karena majikannya mengetahui kasus tersebut.  Ia  harus keluar dari rumah majikan dan kini berada di rumah agency tanpa uang sepeserpun.


Indah tak menduga bakal mengalami kejadian buruk seperti sekarang, terlebih itu berawal dari pertemanannya dengan sesama buruh migran Indonesia (BMI) di HK. Bukannya saling menolong, tapi malah menjerumuskan dia  ke lembah kesusahan. Ia memang mendapatkan majikan galak, namun disiplin dan konsisten dengan segala kewajiban sebagai majikan.


“Majikan saya itu sangat galak dan cerewet Mbak, walaupun tergolong galak, majikan saya patuh terhadap hak haknya pembantu, tiap minggu libur, tanggal merah juga, makan juga bareng bareng satu meja, pokoknya masalah makanan nggak kurang-kurang lah majikan saya itu. Cuma majikan saya orangnya sangat disiplin. Waktunya kerja ya kerja,  jam 10 malam mandi terus tidur, bangun jam 6 pagi, karena saya harus menyiapkan persiapan anak berangkat sekolah. Majikan tidak suka saya main main hape saat bekerja. Walau majikan seperti itu, saya betah kok Mbak, buktinya tambah kontrak kerja lagi,’’ ujarnya.


Indah pun optimis bakal bisa merampungkan kontrak kerja yang kedua. Ia mencoba bersabar meski majikan galak dan cerewet, toh hak-hak dia sebagai buruh selalu dipenuhi. Namun sayang optimisme Indah akhirnya buyar gara-gara perkenalannya dengan Siti Juwariyah, BMI asal Blitar. Indah akhirnya tertimpa masalah beruntun.


 “Waktu pertama kali bekerja di rumah majikan, setahun itu libur saya hari biasa Mbak, yaitu hari Selasa, makanya saya kalau libur sendiri nggak punya teman, wong teman teman saya liburnya pada hari Minggu. Setelah setahun majikan melihat saya sopan, kerja bagus, akhirnya saya dikasih libur hari Minggu dan tanggal merah. Nah… akhirnya saya kenalan sama mbak Siti itu pas lagi duduk di salah satu toko Indonesia yang ada di North Point. Apalagi lihat mbak Siti sudah lama di HK 10 tahun.  Perkenalan pertama kali mbak Siti itu baik banget, ngajak aku makan bareng sama teman-temannya, setelah itu tuker no hape. Setelah itu bisa ditebak lah, tiap hari kita selalu berkirim sms, malam selalu telpon, mbak Siti juga banyak curhat ke saya tentang cowok cowoknya yang pada ngantri menunggu cintanya di dunia maya alias chating dengan TKI Korea dan Jepang,” jelas Indah.


Perkawanan dua BMI itupun makin akrab. Namun itu justru jadi awal petaka. Siti Juwariyah rupanya mulai tahu keluguan Indah dan itu berarti bisa dimanfaatkan. Dan betul adanya, Siti mulai berani minta tolong pada Indah untuk dijadikan saksi di bank.


“Libur selalu bareng ama dia, jadi tahu banyaklah mbak, makanya waktu dia minta tolong pada saya untuk jadi saksi pinjam uang di salah satu bank, saya mau aja. Dia 10 tahun majikan satu, jadi nggak mungkin dia mau membohongi saya, “ ujar Indah.


Namun keyakinan Indah ternyata keliru. Setelah uang dapat, sebesar HK$ 30.000, ia dikasih lima ratus. Cicilan pertama di bank, lancar. Indah pun belum curiga bakal ditipu Siti.  Ia baru merasa dikerjain Siti begitu memasuki cicilan kedua. Siti tidak bayar angsuran dengan  alasan anaknya di rumah masuk rumah sakit, makanya dia minta tolong pada Indah untuk dibayarkan dulu, dan bulan depan akan diganti. Bahkan Siti mulai berani nakut-nakuti,  kalau tidak dibayar, pihak bank akan telpon rumah majikan.


“Jujur saja saya takut mbak, kalau sampai majikan saya tahu. Akhirnya saya bayarkan utang Siti pakai gaji saya. E e memasuki cicilan ke-tiga, lagi lagi dia tidak dibayar, saya cuek bebek waktu, toh pikirku bukan aku yang pinjem. Rasa takut itu ada mbak, kalau sampai majikan saya tahu, kalau saya diinterminit bagaimana? Padahal saya ini tiap bulan juga harus kirim uang ke rumah untuk emak. Benar juga.. pihak bank akhirnya telpon saya, dia mencari Siti, utangnya harus dibayar kata bank, untungnya pas waktu bank telpon majikan saya sedang keluar. Ya itu lagi terpaksa saya bayar lagi utang Siti. Sedang Siti sekarang entah ada dimana, no hapenya sudah tidak bisa dihubungi lagi,” ujar Indah jengkel.


Lima kali cicilan utang Siti,  Indah yang harus membayar, sampai sampai ia sendiri nggak pegang uang. Kalau libur bingung mau kemana, mau makan apa?  Indah juga sudah tidak kirim uang lagi ke emaknya di tanah air. “Sedih banget… rimbanya Siti juga saya tidak tahu, setiap saya tanya ama teman teman, mereka bilang hati hati loh berteman ama dia. Dan dari keterangan teman teman juga kalau Siti itu punya banyak utang.”


Akhirnya memasuki bulan ke- 6, Indah harus kirim uang ke emaknya, karena adik adiknya membutuhkan biaya untuk sekolah.  “Begitu saya terima gaji, langsung saya kirim mbak, nggak peduli ama bank, wong bukan aku yang pakai, saya cuma jadi saksi. Setelah itu pihak bank mulai meneror saya. Telpon hape hampir tiap menit, telpon rumah juga, kata katanya kasar, mencaci maki, pihak bank tidak mau tahu ! Waktunya bayar ya bayar,  walaupun saya saksi saya juga kena mbak, akhirnya majikan saya tahu, padahal saya sudah menjelaskan kalau bukan saya, tapi teman saya, saya hanya dijadikan saksi. Tapi majikan mana tahu, majikan juga tidak mau direpotkan dengan hal hal seperti ini. Bunyi telpon yang tiap hari dari pihak bank akhirnya membuat majikan saya geram dan meng-interminit saya,’’ ujarnya sedih.


Setelah keluar dari rumah majikan, Indah ganti no hape, biar pihak bank tidak menghubunginya lagi. Dan sekarang Indah berada di salah satu rumah agen yang ada di Tin Hau untuk mencari majikan baru lagi.


“Ngenes, tenan mbak! Jadi kadalnya Siti Juwariyah, padahal nggak tahu apa apa, Cuma dapat lima ratus, 6 kali pembayaran utang bank, saya yang harus menanggung, sampai utang utang saya sendiri juga numpuk dan keteteran! Tahu kaya gini, mending nggak usah punya teman apa ya ? Banyak teman bukannya enak, tapi bikin melarat ! diapusi thok. BMI  bekerja dalam waktu lama di HK walaupun bertahun-tahun bukan jaminan. Kalau punya banyak uang, banyak utang iya, bohongin kita yang masih baru baru ini ! siki enyong e ngolet majikan maning, walah potongan maning, nol maning,’’ pungkas Indah dengan bahasa ngapak-nya.(uly)