Laman

Search

14 Desember 2009

Teruntuk Ibu ...




IBU ...


Tiga kata yang terangkai sederhana namun menyimpan sejuta makna yang kadang tak mampu tersusun hanya dengan untaian kata. Pengorbanan, kesetiaan, ketulusan, cinta dan kasih sayangnya, tak mungkin terbalas meski waktu berhenti berputar. Pernahkah terpikir, bagaimana mungkin kita bisa membalasnya, jika untuk menghitung jumlahnya saja kita tidak sanggup?

Berapa banyak peluh yang dikeluarkannya sejak ia mengandung kita dalam rahimnya? Berapa banyak air mata yang dijatuhkannya sejak ia melahirkan kita ke dunia? Berapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk menyuapi kita makan dan memenuhi segala keinginan kita? Berapa banyak malam yang dilaluinya tanpa memejamkan mata hanya karena ingin menjaga kita yang sedang terbaring sakit? Dan berapa banyak pedih yang dipendamnya saat kita mulai tahu cara membantah kata-katanya?

Dari semuanya, pernahkah terpikir bahwa dia memberi kita hidup meski harus menukar dengan hidupnya sendiri?


Sedangkan kita? Apa yang bisa kita berikan padanya? Hanya rangkaian kekecewaan di wajahnya saat nilai ujian kita tidak begitu bagus dan kita tak mau ambil pusing dengan hal itu. Hanya guratan kepedihan di hatinya saat kita mulai mengacuhkan nasihatnya dan membantah kata-katanya. Hanya tetesan air yang jatuh dari pelupuk matanya saat kita tak mau bersusah payah mengurusnya ketika ia sedang terbaring lemah tak berdaya, bahkan untuk sekedar menyuapinya obat.

Dan pernahkah terpikir bahwa sampai detik ini kita sangat jarang mendoakannya? Enggan mengucapkan terima kasih untuk segala yang dilakukannya. Terlalu gengsi untuk mengatakan maaf atas segala yang tidak bisa kita berikan kepadanya. Dan mungkin tidak pernah sekali pun kita mengungkapkan padanya bahwa kita menyayanginya.

Karena sesungguhnya dalam setiap kekecewaannya, selalu terselip doa dan harapan untuk kita. Dalam setiap duka dan letihnya, tetap tersemat bahagia karena memiliki kita. Dan dalam setiap senyuman di wajahnya, selalu ada cinta untuk kita. Tak terbersit sedikit pun penyesalan di hatinya karena telah melahirkan kita.

Jadi, tak ada yang salah dengan peribahasa yang mengatakan “kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah”. Pengorbanannya tak akan pernah terukur dengan timbangan, meteran, atau alat secanggih apapun di dunia ini. Dan bukankah harga termahal adalah harga yang tidak dapat dihitung? Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk tidak membalas apa yang pernah, masih, dan akan diberikannya untuk kita. Justru sebaliknya, itu adalah satu-satunya alasan yang membuat kita tidak akan berhenti memberikan yang terbaik yang kita bisa untuk membalas semua pengorbanannya.

Lagipula, waktu tak mungkin berhenti berputar. Dia akan terus berjalan dan tak mau menunggu. Maka sebelum waktu merenggut habis kesempatan itu, marilah kita datang padanya dan katakan, “aku menyayangimu, Ibu.”