Laman

Search

11 Desember 2009

BMI Hong Kong Diinterminit/PHK Gara-gara Chating !





Belum reda berita buruk tentang buruh migran di Hong Kong, yang nekad merampok bobo (nenek) yang dijaganya (Memo edisi 124), sekarang salah satu pahlawan devisa bikin ulah lagi. Gara-gara "kecanduan" chatting, Nin (25) BMI asal Wonosobo, yang bekerja pada majikan di daerah Yuen Long N.T ini harus rela diputus kontrak kerjanya yang hampir finish.



    Sebenarnya Nin mendapatkan pekerjaan yang tidak begitu berat, kedua majikannya sangat baik dan perhatian. Begitu pula dengan Bibi, anak majikan berumur 6 tahun yang dijaganya tidak begitu nakal dan sangat penurut. Setiap pagi pukul 7.30, Nin harus mengantarkan Bibi ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah mengantarkan anak ke sekolah, Nin harus pulang dulu untuk membereskan pekerjaan rumah. Setelah pekerjaan rumah beres, Nin kepasar belanja untuk persediaan makan malam nanti. 
    Kedua majikan Nin berangkat ke kantor pukul 8 pagi dan pulang pada malam hari pukul 7. Praktis, Nin punya banyak waktu dirumah tanpa ada orang yang tahu apa saja yang dikerjakan Nin selama berjam-jam. Diberi majikan baik dan perhatian, bahkan pekerjaan yang sangat ringan untuk ukuran BMI Hong Kong, tidak membuat Nin bersyukur dan menggunakan kesempatan baik itu dengan benar, Nin menyalah gunakannya dan berbuat teledor.

    Banyaknya waktu luang tanpa ditunggu majikan dirumah, Nin gunakan untuk ber-chatting ria. Dunia maya telah membuat Nin melupakan tanggung jawabnya sebagai pembantu. Menurut pengakuan Nin, ia berangkat kepasar dari jam
9 pagi dan pulangnya sekitar jam 3 sore, waktu 30 menit digunakannya untuk belanja dan selebihnya dihabiskan waktunya didepan komputer yang disewakan toko Indonesia yang ada dipasar Yuen Long. Kurang lebih 5 jam Nin ber-haha-hihi dan saling say hello didepan komputer. Nin pun tidak menyadari bahwa dhai-dhai(majikan perempuan) mulai curiga dan mencium gelagat yang tidak beres pada pembantu yang telah bekerja padanya hampir satu setengah tahun lamanya.

    Kecurigaan dhai-dhai berawal dari setiap menelepon kerumah, telepon rumah tidak ada yang mengangkat. Sekali, dua kali, dhai-dhai mengira pembantunya belum pulang dari belanja, tapi kecurigaan dhai-dhai semakin menjadi saat ke-esokan harinya sekitar pukul 9 pagi sengaja menelepon rumah tidak ada yang mengangkat. Pada jam 2 siang, dhai-dhai sengaja menelepon kembali rumahnya, namun tetap saja tidak ada yang mengangkat. Rupanya keteledoran Nin harus berakhir, disaat asyik ber cup-cup dengan sang pacar dilayar komputer, bahu Nin ditepuk seseorang yang ternyata majikan perempuannya yang sudah merah padam menahan marah. Ditudingnya Nin yang pucat pasi menahan takut, dengan gemetaran Nin meminta maaf, namun dhai-dhai melengos tanpa perduli lagi pada pembantunya tersebut. Tanpa ba-bi-bu lagi, majikan yang selama ini bersikap lemah lembut itu mendamprat pemilik toko Indonesia sekaligus pemilik warnet tersebut.

    Sesampainya dirumah, majikan langsung menyuruh Nin membereskan baju dan semua barang-barangnya lalu diantarkan ke agen. Tubuh Nin lemas seketika, ternyata dhai-dhai benar-benar tidak memberikan ampun lagi. Nin di interminit dan majikan menceritakan semua yang telah dilakukan pembantunya tersebut. Dan sudah dua kali ini majikan secara diam-diam membuntuti pembantunya dan akhirnya memergoki Nin berjam-jam didepan komputer. Nin tak bisa mengelak, hanya bisa pasrah dan menunuduk lesu, "Wis kapok tenan aku mbak..., korupsi waktu kok ya akhirnya ketahuan," ujarnya. (Adp)








*Terpublikasi di Tabloid Memorandum Srby # 126