Laman

Search

10 Desember 2009

Harapan Yatinem pun Layu


Di Indonesia ini, orang sepertiku sudah ada tidak ada tempat lagi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak , selain usiaku yang sudah cukup tua juga ijazah hanya tamat SLTP.
Namaku Yatinem aku berasal dari Desa Panggang Lele, Kec. Kali Pare, Malang, Jawa Timur. Sebuah desa yang tergolong minus, penduduk desa mengandalkan hidup dari bertani dan menjadi buruh dikota. Begitupula dengan keluargaku, boleh dibilang hanya hidup pas pasan sejak suamiku menikah lagi dan menelantarkan anak anakku.
Aku ingin lepas dari kemiskinan ! inilah tekadku ketika aku memutuskan hendak merantau ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Kebetulan ada calo yang sanggup untuk mendaftarkan aku ke PJTKI Surabaya. Melihat kondisi anakku yang masih kecil kecil dan membutuhkan biaya, rasanya ingin aku segera merantau untuk dapat menghidupi mereka. Tahun 2008, hatiku sudah bulat hendak merantau mengubah nasib keluargaku. Derai airmata anakku mengiringi langkah kakiku menuju penampungan. Restu dari keduaorangtuaku men
jadi modal yang sangat berharga. Bayangan kesedihan yang muncul dari wajah kedua anakku kian membulatkan tekadku melangkah terus supaya anak anakku bisa tersenyum dan hidup layak.

Dua bulan aku di penampungan akhirnya bisa juga terbang ke Malaysia. Di kota Serawak ini , aku bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Awalnya majikanku baik, namun tidak tahu lama kelamaan sifat nya berubah, sering aku dimaki makinya, karena kesalahan yang tidak berarti. Namun tidak aku hiraukan karena terbayang wajah kedua anakku yang menunggu dirumah. Enam bulan gajiku tidak aku terima dengan alasan masih potong agen yang memberangkatkan ku dulu.

Waktu berjlan , tidak terasa sudah setahun aku bekerja dan baru mengirimkan gajiku untuk kedua anakku dikampung, memang gajiku tidak seberapa dibandingkan pekerjaan yang aku kerjakan. Bangun pagi pukul 4, pertama aku harus membersihkan kandang anjing dan membersihkan kotorannya sampai bersih, lalu memberi makan. Setelah itu aku mulai membersihkan rumah serta mencuci dua mobil majikanku. Tepat pukul 9 pagi aku berangkat ke mini market milik majikanku, aku berjaga disana sampai jam 10 malam, istirahat hanya boleh sekali waktu makan siang saja.

Majikanku keturunan India, jadi kehidupan mereka berbeda dengan orang melayu. Yang membuat aku sering menangis adalah ketika pagi hari perut terasa lapar tapi tidak mendapatkan makan pagi karena majikanku melarang . Alasan mereka kalau kenyang nanti kerjaku lamban. Aku hanya bisa berucap ''Duh Gusti betapa beratnya hidup dinegeri orang''.

Mimpi Buruk itu Datang

Aku tidak menyangka kalau pagi tiu menjadi tragedi yang amat berat dalam hidupku. Ketika aku membersihkan kandang anjing peliharaan majikanku, pintu kandangnya terbuka dan dan anjing anjing nya lari semua. Aku tergopoh gopoh mengejarnya sampai kejalan raya, namun tidak aku temukan. Aku pulang melaporkan pada majikanku. Namun tidak aku duga majikanku begitu murkanya, dengan menuding mukaku pakai sandal ia bilang, ''anjing anjing ini , lebih mahal dari harga kamu'' dengan kasarnya ia menendangku sampai aku terjerembab ke lantai.

Peringai majikanku berubah kasar dan sering uring uringan. Memaki maki bahkan tidak jarang memukulku. Pernah aku membuat kesalahan karena lupa tidak menyediakan minuman ketika makan dan hari itu habislah badanku. Aku dijambak, diinjak ampai kakiku dipukulnya pakai sapu. Malam itu aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan majikan , aku kabur melariak diri.

Dengan pikiran kalut dan jalan terseok seok aku keluar dari rumah majikanku untuk mencari tempat berteduh dan istirahat barang sejenak. Pikiranku menerawang jauh kekampung halaman dimana kedua anakku tinggal dan berharap banyak padaku.

Berhari hari aku berjalan terseok seok menelusuri pinggir sungai di Serawak. Aku tidak tahu lagi harus kemana. Baju, paspor, uang semua aku tinggalkan dirumah majikan. Perutku lapar tapi apa yang harus aku makan uang sesen pun aku tidak punya. Aku hanya bisa mengais sisa sisa makanan orang ditempat sampah.

Dengan usiaku yang hampir 40thn , tidak mungkin aku bekerja kasar dibangunan. Aku hanya diam diujung jalan sambil menerawang mengingat wajah anak anakku, tidak terasa 3 minggu sudah aku jadi gelandangan di negeri orang.


Tertangkap Pasukan Rela

Ketika akus sedang tertidur dipinggir jalan, tiba tiba ada pukulan dan tendangan dibadanku. Aku bangun dan langsung diborgol kedua tanganku oleh pasukan rela. Sambil ditarik dan dimaki maki mereka membawaku kebalai polisi, entah apa namanya aku tidak tahu. Disana banyak sekali kawan kawanku dari Indonesia. Setelah ditanya aku dibawa kepenampungan sementara, semacam penjara wanita. Tiap pagi aku harus duduk bersila  2 jam tanpa boleh bergerak.

Tiga minggu berada dipenjara wanita aku tinggal bersama dua puluh kawan dari Indonesia. Pintu besi dan gemboknya membuat bulu kudukku merinding. Kutu busuk, nyamuk sudah terbiasa mengigit badanku. Rasanya sudah lelah aku hidup seperti ini. Namun bayangan kedua anakku tidak dapat lepas dari mataku. Setiap malam aku hanya bisa menyebut ''Tuhan jangan biarkan aku mati disini''.


Kembali ke Indonesia


Walau hatiku menangis, tapi apa boleh buat, kujalani hidup ini dengan ketabahan. Mungkin karena sudah cukup masa tahanan ku , aku dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia. Akhirnya aku diantar ke penyebrangan diperbatasan Malaysia di Pasir Gudang bersama 450 kawan dari Indonesia. Borgol masih melingkar dikedua tanganku walau pun kondisi fisikku sudah tidak kuat, kedua kakiku patah dan badanku kurus kering.

Hatiku perih bila menyadari kondisiku seperti ini. Dalam perjalanan pulang pun aku tidak bisa tidur karena menahan rasa perih, nyeri yang amat dalam. Apabila aku bergerak, rasanya lepas semua tulang tulangku. Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya kapal ferry yang aku tumpangi sampai di Tanjung Pinang. Aku pun masih dilanda kebingungan . Terbayang reaksi kesedihan kedua anakku jika mengetahui ibunya yang jauh merantau pulang dengan kondisi seperti ini.

Aku masih berpikir, mampukah aku bertahan pulang ke Kali Pare, Malang dengan kondisi yang masih lemah ini ? Apalagi perjalanan masih memakan waktu berhari hari. Dari pelabuhan Tanjung Pinang aku diantarkan ke penampungan sementara milik pemerintah. Beberapa hari dipnampungan aku tidak mendapatkan pelayanan medis. Paadahal kaki, tangan dan badan sangat susah aku gerakkan. Apalagi mataku yang sebelah tidak bisa melihat apapun.

Beberapa hari dipenampungan Tanjung Pinang aku dipulangkan ke Jakarta dengan kapal Sirimau melalui pelabuhan Tanjung Priok . Diombang ambing kapal rasanya badanku semakin lemah namun tekadku bulat aku harus sampai rumah. Entah apa yang tersirat dibenak keluargaku ketika mereka mengetahui aku pulang dengan kondisi yang sangat memilukan ini. Akhirnya aku sampai juga di pelabuhan Tanjung Priok. Dengan dibantu kawan TKI aku turun dari kapal menuju ruang tunggu TKI. Empat jam aku menunggu diruangan tersebut. Rasa sakit, ngilu tidak aku rasakan, setelah aku didata dan diberi nasi bungkus, namun airmataku tidak dapat aku bendung mengingat kedua anakku rasa lapar hilang sudah.

Sampai Kampung Halaman

Satu jam aku menunggu jemputan akhirnya datang juga, kedua anakku diantar keluargaku. Mengetahui kondisiku seperti ini , kedua anakku menangis sejadi jadinya menyesali kenapa aku dibiarkan pergi. Namun aku bilang sudahlah anakku, tidak usah menyesal yang penting aku sudah sampai dikampung.

Perjalanan dari kota Malang kekampung lebih dua jam. Mataku tak henti hentinya menatap wajah kedua anakku yang sudah mulai dewasa. Dalam hatiku berkata ''kalau nanti sudah besar jangan bekerja keluarnegri'' cukup ibumu saja yang mengalami nasib seperti ini ( ** )



(Cerita ini ditulis berdasarkan penuturan Yatinem. Ketika tulisan ini selesai, Yatinem sudah menghembuskan napasnya yang terakhir dipelukkan kedua anaknya)

By : Lily Pujiati

SUARA Vol.V No.127(4 Desember 2009)