Laman

Search

31 Desember 2009

Divonis Penyakit Kulit, BMI-Hong Kong Diinterminit !



Cerita tentang buruh migran Indonesia (BMI) diluar negeri seakan tak pernah lepas dari beban derita. Erry (25) BMI asal Ngebruk Malang Jawa Timur, yang telah bekerja selama 16 bulan didaerah Tsing Yi ini di interminit majikan disaat menderita penyakit kulit. Pada Jumat (25/12) Erry merasakan suhu badannya panas dan demam, dan tiba-tiba saja disekitar leher, telinga dan pelipis kirinya tumbuh bintik-bintik dan berair. Rasa gatal dan panas tak bisa ditahan oleh perempuan pendiam tersebut. Diberanikan diri untuk pamit kepada majikan untuk berobat kedokter, dan majikan mengijinkan Erry untuk berobat.

Sepulang dari berobat, Erry langsung meminum obat yang diberikan dokter dan memberikan kwitansi tanda pembayaran berobat. Erry bergegas kedapur menyiapkan masakan untuk makan malam majikannya. Namun disaat memasak, nyonya menghampiri Erry dan menyuruhnya dengan segera membereskan barang-barang dan akan diantarkan ke agen. Karuan saja Erry kaget bukan kepalang, dan memberanikan diri bertanya pada majikan apa kesalahan Erry sampai di interminit. Jawaban majikan yang tidak masuk akal membuat Erry penasaran, dan setelah tiba di agen yang terletak didaerah Kowloon Erry masih saja bertanya karena tidak puas dengan keputusan sepihak yang sangat merugikannya.


Majikan memberikan alasan bahwa Erry di interminit karena majikan sudah tidak membutuhkan pembantu. Namun Erry mendengar dari pengakuan salah satu pegawai agen, majikan memulangkan Erry karena ketakutan penyakit kulit yang diderita pembantunya tersebut akan menular. Disaat ditemui Memo didaerah pasar Kowloon, Erry hanya bisa pasrah dan diam, namun majikan memberhentikannya bekerja sangatlah tidak adil baginya. Sakit yang dideritanya belum juga sembuh tapi harus rela dipulangkan majikan yang rencananya hari Senin depan Erry harus meninggalkan Hong Kong karena tiket pesawat juga sudah dibelikan majikan.


"Saya tidak tahu harus lapor kemana, yang saya tahu kan pembantu sakit harus diobatin dulu baru boleh pulang. Lha tapi saya masih sakit kayak gini, waduh sakitnya leher saya nggak ketulungan, panas dan gatal mbak, dokter bilang penyakit saya beracun, dan bilang saya terkena penyakit Shang She (penyakit kulit yang mirip kulit ular). Dan ada yang bilang, kalo tidak cepat diobatin penyakit ini mematikan, Ya Allah..., saya nggak tahulah..., tapi saya nggak mau pulang, saya mau berobat di Hong Kong dulu mbak." Ungkap Erry yang akan memperjuangkan haknya sebagai buruh migran yang seharusnya dilindungi disaat sakit, bukan malah dipulangkan tanpa adanya tanggung jawab. (Adp)


Terpublikasi di Tabloid MEMO-Srby # 129