Laman

Search

08 September 2009

Mengintip Puasa di Kalangan BMI-HK


Mayoritas buruh migrant Indonesia yang bekerja di Hong Kong adalah beragama Islam. Menyambut datangnya bulan puasa Ramdhan di Hongkong kondisnya jelas berbeda dengan suasana dikampung halaman. Ditanah perantauan semuanya serba terbatas karena bekerja ikut orang. Berbagai kendala yang dihadapi para BMI yaitu sulitnya membagi waktu. dan sebagian dari buruh migrant tersebut tidak diperbolehkan menjalani ibadah puasa oleh majikannya dengan alasan takut sakit ! ada yang pula yang benar benar niat menjalani ibadah puasa tapi pekerjaan ‘’setumpuk’’ telah menghadangnya.Beberapa BMI yang memo temui, sebagian dari mereka rata rata mengatakan kendala yang terberat dalam menjalani puasa adalah, menentukan waktu untuk makan sahur bangun tengah malam.


Ina (25) BMI asal Kendal, menceritakan pengalamannya menjalani puasa di HK.

‘’yang paling susah itu adalah bangun tengah malam mbak, di HK khan gak kaya dikampung ada orang yang ronda bangunin, juga suara adzan, lha wong pernah tengah malam bangun untuk sahur umpet umpet makan didapur, lho yo ketahuan majikan, ya terus kena marah, katanya kok malam malam makan, setelah aku jelasin akhirnya majikanku mau ngerti.’’ Ujarnya pada Memo.

lili (26) BMI asal Kebumeni ini sungguh sangat beruntung dia dapat majikan yang sangat baik, selain diperbolehkan puasa dia pun bisa melaksanakan sholat lima waktu. Itu karena tidak lepas pekerjaan Lili hanya merawat Bobo (nenek), dan kesehariannya Lili hanya berdua dirumah dengan Bobo. Dia bebas melakukan apa saja.‘’aku puasa sama sekali gak ada halangan yang berarti, pekerjaanku juga gak seberapa berat, majikan ku juga tahu, yang gak bisa itu adalah sholat terawih,karena waktunya khan malam hari, tempatnya juga jauh, jadi gak mungkin aku ninggalin nenek malam malam, yang penting niatnya mbak, sudah bisa puasa aja aku sudah syukur banget.’’ Via telpon dengan Memo.

Dilain tempat seperti yang Memo temui lagi yaitu Dika (31) BMI asal Malang. Bagi Dika ini puasa adalah suatu yang mustahil buat dia, bukan tanpa alasan, pekerjaan Dika yang begitu menumpuk ditambah karekter majikannya yang galak dan kerap memaksakan sesuatu.

‘’sebenarnya pingin puasa mbak, ini adalah tahun ketiga aku tidak puasa, kerjaanku ditoko baju mbak, majikannku punya toko dua di daerah Mongkok dan Jordan-Kowloon,tiap hari harus mondar mandir bawa barang, belum kerja didua rumah, itu aku lakukan selesai bawa barang ditoko, jemput anak sekolah, apa lagi tiap hari pegangnya daging babi, tidak hanya pegang, masak aku pun sudah makan daging babi, kalau makan malam tuh khan bareng bareng satu meja ama majikan, lha wong dipaksa ama majikan, piye meneh ?kalau gak makan dimarahin majikan,pernah sekali puasa mbak dampaknya pada pekerjaanku dimata majikan katanya lambat, dan lelet !, ya uda puasanya kalau hari minggu tok saat libur, itu pun tak sempat sempatin untuk ikut sholat terawih berjamaah di Musala KJRI tiap malam senin, mau gimana lagi, mau gak mau dan keadaanya sudah seperti ini, ya dijalanin aja, nanti kalau sudah pulang ke Indo utang puasa nya dibayar lunas.’’ Ujarnya sedih.(uly)