Laman

Search

20 Agustus 2009

Mega Vristian Seorang BMI, Penulis, Juga Jurnalis


''Kami memang masih bernama Indonesia berpaspor Republik
Tapi , ketiadaan membuat kami tinggal Indonesia kertas
Ketiadaan menyingkirkan kami dari segala hitungan rencana negeri
Kami sudah bukan apa apa lagi
Sembilan puluh delapan kami diancam kematian digantung
Entah berapa yang tewas diujung cambuk
Tuhan
Nyawa kami masih saja bukan apa apa lagi''.

Puisi diatas adalah penggalan puisi karya dari Mega Vristian, yang berjudul ‘’Kami Bukan Apa apa’’
Dikomunitas buruh migrant Indonesia [BMI] yang ada di Hong Kong, nama Mega Vristian tentunya sudah tidak asing lagi.
Mega vristian [44], BMI asal desa Prembangan, Kecamatan Turen-Malang Jawa timur, Ibu dari lima orang anak. Kecintaannya akan dunia sastra yaitu menulis, jiwa seni yang mengalir didarahnya, membawa ia menjadi seorang penyair, penulis puisi, cerpenis bahkan terkadang berubah menjadi seorang jurnalis.
Hobby nya menulis telah membuat ia berhasil menjadi salah satu dari sekian BMI yang berprestasi.
Usia senjanya tak menjadi penghalang untuk tetap bersemangat dan berkreatifitas, menghasilkan suatu karya. Selain berkecimpung didunia tulis menulis, ia juga aktif ikut turun jalan disetiap demo yang dilakukan oleh organisasi BMI di Hong Kong. Ini dilakukan sejak tahun 2003 ketika bergabung dalam serikat buruh, yaitu Indonesian Migrant Workers Union [ IMWU].
Penampilan Mega kesehariannya yang kelihatan keibuan dan sederhana tapi, tidak dengan karya karya nya, tulisan nya terkadang pedas, mengkritik tajam , lugas. Menggambarkan kondisi buruh migrant yang ada ditanah perantauan, dan kerinduan terhadap keluarga ditanah air.
Karya tulisannya, baik berupa puisi, cerpen, artikel lepas sering dimuat diberbagai media di Indonesia, juga di Koran SUARA dan Tabloid APAKABAR di Hong Kong. Beberapa cerpennya juga telah diterbitkan dan dibukukan, antara lain ;

-Antologi Puisi-Cerpen Esai Sastra Pembebasan [2004]
-Puisi Trilogy Dian Sastro For President-On/Off Book [2005]
-Antology Puisi untuk Munir berjudul Nubuat Labirin Luka-Sayap
Baru dan Aceh Working Groups [2005]
-Kumpulan Cerpen ‘’Nyanyian Migran’’, Dragon Family Publisher [2006]
-Kumpulan Cerita Mini, Selasar Kenangan, AKOER [2006]
-Antology puisi 5 Kelopak Mata Bauhina-Forum Budaya BMI dan Komunitas Cantrik [2008]
Penah berasil menjadi juara I lomba cipta puisi yang diadakan oleh Komunitas Perantau Nusantara, bekerja sama dengan milis Apresiasi –Sastra @ Yahoogroups.com[2006].
Pada tahun 2005 Mega bersama 6orang kawannya [ Etik Juwita, Tania Ross, Fanani, Lik Kismiwati, Tatik ], mendirikan Komunitas Perantau Nusantara, yaitu suatu Komunitas yang menggeluti bidang sastra, tulisannya banyak dimuat dimedia Indonesia maupun di Hong Kong.
‘’saya sebenarnya bukan siapa siapa, dan sedang tidak menjadi apa apa, bahkan saat ini saya tidak terdaftar di organisasi BMI. Tapi, saya selalu berusaha turut andil dan mensport dalam semua gerakan yang bertujuan melakukan perubahan terhadap nasib BMI’’, ujar Mega dalam wawancara via telpon.
Bagi anggota Shelter, di Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonesia [KOTKIHO] di Hong Kong, shelter yang mana merupakan sebuah penampungan bagi BMI yang tengah melakukan proses penyelesaian kasus mereka, nama Mega begitu akrab dimata mereka, karena disetiap ada waktu luang, Mega selalu mengunjungi para BMI yang ada dishelter tersebut, memberi spirit, membagi ilmu yang ia miliki yaitu menulis, dan memberikan bimbingan dasar computer.
Keinginannya yang begitu kuat dan maju bersama dalam menghidupkan sastra Indonesia dikalangan BMI, sering ia lakukan bersama komunitasnya. Seperti mengadakan lomba cipta puisi dikalangan buruh migrant, mengkoordinator peluncuran buku penyair dan sastrawan Indonesia di Hong Kong.
Semua itu ia lakukan demi memacu minat baca dan menulis buruh migrant. Wujud keseriusannya dibidang sastra, ketika ia merangkul 16 buruh migrant untuk bersatu dalam buku kumpulan cerpen yaitu ‘’ Nyanyian Migran’’[2006]. Walau Mega sendiri mengaku masih harus banyak belajar.
‘’ saya berusaha menguatkan mereka [BMI], untuk tetap tabah, tegar dan bangkit membela hak mereka dan mau mengisi waktu kosongnya untuk membaca dan menulis , karena sesungguhnya mereka [BMI] itu adalah perempuan perempuan yang perkasa yang sudah berani meninggalkan tanah air demi perubahan nasib masa depan dan keluarganya’’pungkasnya.[uly]