Laman

Search

02 April 2010

Tri Handoko, Tentara Gadugan, Menipu TKW-HK Ratusan Juta !

BMI Hong Kong Tertipu Oleh Rayuan Maut Tentara Gadungan.
Cinta adalah anugerah yang patut di syukuri oleh setiap manusia, karena cinta pula orang bisa lupa diri dan tidak perduli dengan orang sekitarnya. "Dunia hanya milik kita berdua, orang lain hanya numpang lewat", begitulah kata mutiara yang sering diucapkan oleh dua insan yang sedang dilanda asmara. Begitu pula dengan kisah asmara yang di alami oleh Dill (30) buruh migran asal Malang Jawa Timur yang hampir 10 tahun bekerja di Hong Kong. Setahun yang lalu Dill berkenalan dengan seorang lelaki lewat dunia maya (chatting), Tri Handoko Sumongko (30) berasal dari Blitar Jawa Timur yang mengaku sebagai tentara. 

Perkenalan lewat chatting tersebut akhirnya berlanjut menjadi jalinan asmara antara Dill dan Tri Handoko yang pada saat itu mengaku sedang bertugas di Jakarta Timur.

Kebahagiaan yang dirasakan Dill rupanya terusik dengan datangnya kabar burung yang mengatakan bahwa Tri adalah "Play Boy" kelas kakap yang sering menipu para buruh migran di Hong Kong. Rasa cinta yang di miliki Dill untuk Tri Handoko tidak mudah luntur dengan adanya gosip yang belum diketahui kebenarannya. Dill tetap saja meneruskan jalinan cintanya walau beberapa teman Dill mengingatkan untuk berhati-hati pada lelaki yang bernama Tri Handoko Sumongko tersebut. 

Selama dua bulan berpacaran, percintaan dua insan yang dilanda asmara tersebut semakin mesra dan berlanjut dengan saling bertukar foto yang dikirim lewat ponsel mereka masing-masing. Kepercayaan Dill semakin bertambah, disaat kekasihnya itu mengirim foto yang lumayan berani memamerkan keperkasaan seorang lelaki. Dill, janda satu anak itu semakin klepek-klepek oleh rayuan yang dilancarkan Tri Handoko,
 beberapa foto bugil yang dikirimkan lelaki yang dipanggilnya papa tersebut telah membuat Dill mabuk kepayang.

Kenyataan tak seindah yang dibayangkan Dill, percintaan yang semula berjalan adem ayem tanpa adanya pertengkaran tersebut terganggu dengan sikap Tri yang mulai berubah. Kepada wanita yang dipanggilnya mama tersebut, Tri mengeluh kekurangan uang untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi agar kenaikan pangkat diperoleh oleh Tri Handoko Sumongko. Mendengar keluhan kekasihnya tersebut Dill tak bisa berbuat banyak, karena uang gajian Dill baru saja dikirimkan untuk keluarganya di Indonesia. Tri mengaku bahwa biaya untuk melanjutkan pendidikannya berjumlah Rp.15 juta sedangkan uang yang dimiliki Tri hanya Rp. 13.250.000 dan kekurangannya sejumlah Rp.1.750.000. Dengan alasan uang telah terkirim semua untuk keluarga dirumah, Dill menolak mengirimi uang untuk kekasihnya tersebut.

Penyesalan memang datangnya selalu terlambat, kabar burung yang mengatakan Tri Handoko adalah penipu ternyata benar adanya. Dill nekad menyuruh adiknya di Indonesia mencari tahu alamat yang telah diberikan Tri Handoko yaitu di Kampung Poncol Atas RT: 017 RW: 005 Kelurahan Jati Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur. Kabar yang diterima Dill sungguh diluar dugaan, adik laki-laki Dill menceritakan semua tentang siapa Tri Handoko Sumongko yang sesungguhnya. Tri yang mengaku sebagai tentara dan di tugaskan di Jakarta Timur tersebut hanyalah seorang satpam sebuah pabrik di Jakarta. 


Dill hanya bisa menghela nafas panjang mendengar semua kenyataan tentang kekasihnya itu. Ternyata kabar yang tersebar selama ini benar adanya. "Tri Handoko itu ibarat lonthe (pelacur.red) lanang mbak, dia ternyata penipu. Tiga teman saya Rin, Har da  SS telah kena rayuan gombalnya. Alasan minta uang buat biaya pendidikanlah, buat biaya ibunya operasilah, dan masih banyak lagi
alasan untuk menipu kami BMI HK. Uang ketiga teman saya sudah di makan oleh tentara gadungan itu, ada yang kirim 2 juta, 4 juta bahkan sampai 7 juta. Bener-bener kurang ajar dia, jual tampang hanya untuk merayu perempuan." Ujar Dill menahan amarah, dan berpesan pada Memo untuk memasang foto Tri Handoko agar BMI Hong Kong lebih berhati-hati berkenalana di dunia maya. (Adp)


*Terpublikasi di Tabloid Memorandum-Surabaya # 142