Laman

Search

21 Maret 2010

Sastra Dari Kamar Ibu (Adhy Rical)

Tepat. Kita tidak perlu repot mencarinya. Sastra begitu dekat dengan kita. Sedekat mulut kita dengan puting susu ibu. Begitu dekatnya, kita sering lupa bahwa apa yang pernah didendangkan atau didongengkan sebelum tidur adalah bagian dari sastra yang banyak dinikmati dari berbagai sumber. Yupz.

Baiklah. Kita mulai dari sini. Kota Kendari? Ah, bukan. Ini kota masih pemberian tidak sengaja orang Jepang. Konawe bagaimana? Menarik. Kota yang dulu sabana. Kota yang diyakini dalam legenda To-Laki turunnya manusia pertama, Oheo.


Waduh. Kok tambah rumit, ya. Kita hendak bicara sastra, sejarah, atau mitos? Tak apalah. Begini saja. Mari kita bicara dari hati saja. Kata ibuku, hati yang tenang dan bersih sangat sulit ditemukan sekalipun pada orang yang jujur. Nah, begini lebih baik. Saya hendak bilang: tulislah apa saja dan tentang apa saja. Mungkin tentang anak-anak sekolah di kampung adat Hukaeya-Laea yang fasih menulis dengan belimbing hutan. ()

Diary atau buku catatan harian mungkin kian kurang digunakan karena fasilitas benda elektronik sudah memiliki fitur tersebut. Tetapi, bagaimana pun menulis tetap perlu sekalipun untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia perlu untuk mencatat hal-hal terkecil yang luput dari perkiraan orang seperti ketika tali sepatu terlepas, kancing baju terjatuh, topi yang tertiup angin, sms nyasar atau miscall yang datang setiap hari. Bukan main. Begitu banyak kata-kata yang bertaburan apalagi jika anda termasuk orang yang suka ngerumpi/menggos/gosip atau bacrit atau apalah istilahmu (hanya kamu yang tahu). Kenapa tidak ditulis? Sulit memulai dengan kalimat pembuka? Tak apa. Tulis semau dan sesukamu. Biarkan ia bebas. Tak perlu cari kata-kata yang rumit untuk menulis itu semua. Buatlah dengan kata yang sederhana, bebas, meskipun tidak terarah. Hanya satu yang mesti diingat, mulailah dengan bahasa yang santun.


Santun. Saya menyukai kata ini karena lebih teduh. Seteduh kalimat ibu saat kita hendak ke sekolah. Lupakan referensi dan panduan menulis lainnya jika anda hendak menulis. Biarkan ia mengalir secepat pikiran yang datang. Biarkan ia jadi dulu dengan tidak berbentuk. Butuh waktu memang untuk membentuknya. Bisakah anda menulis surat cinta hari ini kepada orang yang anda kagumi? Aha. Senyummu itu, kusuka. Tetaplah dengan semangat. Ini mudah saja. Sekali lagi. Sastra bermula dari kamar ibu. Mari, kita susuri cerita dari kamar ibu kita. Lupakan ayah untuk sementara yang membantu ibu hingga kita ada. Di kamar ini.***

Tak kusangka, masih bisa menulisnya dengan jempol.