Laman

Search

19 Februari 2010

Yang Tersisa Dari Perayaan Imlek:Seorang BMI-HK Diperas Tenaganya, Digaji Separuh Dan Di-PHK!


Ini adalah kisah sedih dari seorang buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong.  Sebut saja namanya Lisa (30),  BMI asal Cilacap yang  baru bekerja 2 bulan di majikan di daerah Chung Kwan O.  Saat ditemui Memo, pekan lalu di salah satu agency di Saiwanho, dengan tatapan mata kosong dan sesekali menangis sesenggukan, menandakan kesedihan yang belum berakhir. Ia kini ditampung disalah satu Agen yang ada di Wanchai sambil menunggu mendapatkan majikan baru.
Lisa diberangkatkan ke  HK bulan Desember 2009 oleh jasa penyalur tenaga kerja yang beralamat di Jakarta Timur. Setelah di HK, Lisa ditampung oleh agen Wanchai. Dalam kontrak kerja tertulis Lisa bergaji full, libur tiap minggu/tanggal merah. Dan bertugas mengasuh anak majikan yang berumur 7 tahun dan 10 tahun . Dan siapa sangka setibanya Lisa di HK dan mulai bekerja dimajikannya itu, semuanya tidak sama dengan apa yang tertera didalam kontrak kerjanya.

‘’Ternyata saya gaji under (dibawah standar) Mbak, HK$ 2000. Waktu pertama datang rumahnya kotor sekali, saat itu juga langsung kerja, diawasi ama majikan laki. Kerja sampai larut jam 02.00, dini hari, baru selesai. Jam 2 itu juga saya baru makan dan mandi. Majikan saya itu keluarga besar, anaknya 4, ada kungkung, bobo juga komplit ada binatang peliharaan, anjing sama kucing, ‘’ ungkap Lisa.

Bisa dibayangkan, Lisa yang berbadan kecil kurus ini, tentu kewalahan mengerjakan semua tugas tugas nya. Belum anak anak majikannya pada rewel dalam soal makanan, dan ternyata semua satu keluarga berwatak jahat. ‘’Kerja beberapa hari, jujur saya nggak betah Mbak, mulai dari majikan laki, perempuan, anak anaknya dan kungkung/bobo semua memusuhi saya. Saya kerja nggak pernah beres di depan mata mereka. Apalagi anak majikan yang pertama sangat judes sekali. Terkadang kepala saya ditonyol jika menyetrika bajunya kurang rapi. Tapi yang kebangetan ya majikan laki itu mbak, mulutnya kaya cewek. Setiap gerak-gerik saya selalu diawasi ama dia. Bangun jam 5 pagi, nyiapin sarapan, semua nya menunya beda setiap orang. Pokoknya kerja itu gak ada berhentinya deh Mbak. Capek sekali, jatah makanan juga sedikit. Bulan pertama saat tandatangan disitu tertulis full, tapi apa,  saat gajian saya hanya menerima sisanya HK$ 200.  Seminggu sebelum imlek, saya disuruh majikan untuk membersihkan rumah saudara saudaranya. Sampai tengah malam. Dioper sana-sini, ya saya nurut aja mbak, saya kan masih baru, bahasa juga tidak paham, “ ujar Lisa dengan mata menerawang.

Dan siapa sangka, sehari setelah Imlek, dan rumah semua kinclong bersih, saat itu juga Lisa disuruh angkat kaki.  Jangankan sekedar uang lelah, ucapan terima kasih pun tak sempat disampaikan majikan jahat tersebut. Meski diliputi perasaan heran dan juga jengkel, namun Lisa tak bisa berbuat apa-apa. Sekedar protes lewat kata-kata pun, gadis malang itu pun tak mampu, karena memang belum paham betul bahasa Hong Kong.

‘’Boro-boro dapat angpau Mbak, dapat capeknya thok ! jam 10 pagi saya disuruh menata baju semua dan disuruh keluar dari rumah saat itu juga. Ya saya nggak bisa ngomong waktu itu, salah saya apa? Tapi jujur dari dalam hati, saya ada senangnya, keluar dari penjara. Kata majikan sudah tidak butuh tenaga saya,” ujar Lisa.

            Meski sedikit lega bisa keluar dari “rumah kerja paksa”, ternyata penderitaan Lisa belum berakhir. Begitu sampai di agen, masih saja ia menerima perlakuan yang menyesakkan dada. Agen lagi-lagi menimpakan kesalahan padanya dengan mengatakan kerja Lisa tidak beres. “Agen malah memarahi saya, katanya saya gak becus mengerjakan pekerjaan! Sumpah, majikan itu sangat jahat mbak. Saya keluar dari rumah majikan itu sepeser pun saya tidak pegang uang. Uang darimana ? Sisa gaji bulan pertama yang dua ratus itu, ya sudah habis mbak, buat beli roti, itu pun umpet-umpetan. Di agen boro-boro diurusi ini malah disuruh part-time, gak dapat uang, uangnya diambil agen. Padahal seminggu lagi visa saya habis, belum dapat majikan,” tutur Lisa memelas.

            Akhirnya Lisa kabur dari agen jahat tersebut.  Dan atas anjuran seorang teman yang kebetulan kenalan di dalam MTR, dia lantas diberi alamat agen baru yang ada di Wanchai. “Alhamdulillah mbak, diagen ini saya diurusi , teman teman juga pada baik disini. Saya sudah dapat majikan, jaga bayi juga sudah ketemu majikannya pula. Sekarang mau ke China mbak, mau nunggu visa kebetulan agen ini punya bording house disana. Ya saya hanya berharap semoga dimajikan ini , semuanya diperlancar, bisa finish kontrak. Saya diinterminit dan diperlakukan sama majikan dulu juga tidak beritahu sama keluarga dikampung, kasihan takut mereka pikiran, biarlah saya yang tanggung, sudah resiko mbak, kerja dinegeri orang harus siap segala resikonya,” kata Lisa mengakhiri pembicaraannya dengan Memo. (uly)

Terpublikasi di Tabloid Memorandum- Srby # 136