Laman

Search

20 Februari 2010

~ Sajak IBU ~

Bongkahan cakrawala muntahkan bulan
guratannya serupa tuturmu, ibu
pasti bulan itu adalah doamu
yang terus mengental sekeras salju
menjadi warna putih di reruntuhan sepiku


ibu, musim-musim terus mengungsi
pada perigi dan pinggir kali
aku tak mengerti pertanda apa ini
yang kutahu hanya harapmu yang tak sepi-sepi
mengantarkanku hingga ke tepi
tempatku mempertaruhkan selaksa mimpi



Ibu, sepanjang jalan nafasku
aku ingin menghapus kecut airmatamu
walau aku tak kan pernah sampai pada nyerimu


[Ibnu Syam,15 Desember 2005]


DIANTARA WAKTU
pro: Uly



di rimbun ilalang
angin menyemai merahnya senja
dari tatapan matanya yang sayu
dan warna matanya yang biru
ia menunggu waktu

dua tahun lalu
ia mampir di bilik rindu
bersama merahnya jambu
ia berharap selalu

setelah musim beranjak dewasa
dan matahari sehangat senyumnya
aku ingat juga
aku meski membalas emailnya.....

"salam kenal, namaku Uly, kerja di Hongkong, sudah lama mencarimu, berharap bertemu meski di dunia semu...", tuturnya.

"aku senang baca puisimu, terutama tentang ibu", lanjutnya.
"siapa sih kamu, benarkah kau suka sajak-sajakku, aku hanya seorang laki-laki, yang mencoba gemar menulis puisi", dalam hatiku...

tadi malam
di antara langit yang temaram
dan ketika magrib mengendap di pinggir-pinggir jalan
"selamat malam wahai Penunggu, inilah waktu untuk menyapa salammu, ma'af kalau kamu
terlalu lama menunggu waktuku".

Ul....

di kelamnya malam itu
sudahkah aku usap serpihan-serpihan penasaranmu?

Malang, 25 July 2009.