Laman

Search

03 Januari 2010

Lelaki yang Akan Terus menjadi Lelakiku !



Seorang lelaki berjalan menjauh, memunggungi perempuannya yang hari itu sudah bukan lagi perempuannya. Tidak ada saksi selain dua orang yang sudah tidak lagi satu hati. Aku dan dia. Bukan lagi kami.
Kadang tiap detik begitu sangat menyakitkan ketika otak yang tidak seberapa besar yang ada di kepalaku ini mengingat masa setahun yang lalu. Kadang ingin mencuci saja otak yang tidak pernah mau kompromi dengan hati, yang satu ingin melupakan, dan yang lain, egois ingin selalu mengingat-ingat. Kadang ketika yang lain tertawa dan aku berada di kumpulan manusia yang tertawa itu dan aku juga ikut tertawa, kenapa yang terasa tetap saja sepi.



Sudah setahun yang lalu tetapi aku masih tetap saja sendiri. Yang aku tahu, lelaki itu juga masih terus sendiri sampai sekarang. Ingin rasanya kembali padanya dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa, tetapi ternyata sulit. Tarik-ulur, maju-mundur, dan aku tidak pernah berhasil menang melawan ketakutan akan penolakan. Pernah suatu hari aku memberanikan diri mengirim suatu pesan singkat kepada lelaki itu yang berisi bahwa aku merindukannya terus sejak ia pergi. Lelaki yang masih sendiri itu bergeming. Katanya, “Sudahlah, cukup sampai di sini. Aku menyayangimu dan kamu juga menyayangiku. Biarkan itu tetap indah, tanpa ada retak.” Akh, pikiran yang aneh itu keluar lagi dari mulutnya. Sudah setahun dan aku masih tetap tidak mengerti artinya.


Kesendirian menjadi teman setiaku. Iya, mungkin pada satu kesempatan dalam hidupku yang lalu aku telah memutuskan bahwa aku akan terus sendiri dan tidak akan mencari, pun mencoba kembali pada lelaki itu. Ternyata mengharap itu begitu melelahkan. Kabar terakhir yang aku dengar tentang lelaki itu, ia sedang mencoba mencari penggantiku yang mungkin tidak akan pernah ia temukan di mana pun. Kesadaran bahwa aku satu-satunya di dunia ini yang mencintainya tanpa cacat membuatku menyombong dan berani mengatakan bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik untuknya, kecuali aku. Namun, pada akhirnya, kesombongan yang muncul sebagai penyangkalan untuk hati atas kenyataan yang tidak sejalan dengan mauku ternyata punya batas sendiri untuk dapat menenangkanku.


Ketika kudengar lelaki itu benar-benar menjatuhkan pilihan pada satu perempuan, maka kesombonganku tidak ada gunanya lagi. Kesombongan itu malah berbalik menyerangku lebih keras, dan mendorongku ke jurang yang lebih dalam. Rasanya tidak ada yang lebih meyakitkan daripada mengharapkan sesuatu yang (ternyata) tidak ada. Ingin menangis pun rasanya sudah tidak bisa. Air mata sebagai lambang kelemahan sudah pergi menjauh dari tubuhku yang menolak untuk segala sesuatu yang bermakna lemah.

Semalam ada yang memanggil aku di dalam mimpi. Lelaki itu. Ia mengatakan dari balik halimun yang tebal bahwa aku harus menunggunya kembali. Entah sampai kapan. Yang pasti aku harus menunggunya. Aku yang di dalam mimpi itu terbelit samun hanya mengiyakan dengan pasti, walaupun rasanya aku ragu.



Ketika terbangun di hari ini, ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang berubah pula. Entah apa. Rasanya ada harapan, tetapi ada kemustahilan.


Seorang perempuan berhenti merasa sejak melihat punggung seorang lelaki menjauh pergi. Seorang lelaki yang akan tetap ia anggap sebagai lelakinya. Walaupun, perempuan itu bukan lagi perempuannya.

(Astri)