Laman

Search

30 Januari 2010

Kisah BMI-HK yang Sukses Bekerja dan Bergabung Group Tianshi



Saat ini Asiya tinggal di Malang, Jawa Timur bersama suami dan anaknya. Asiya kembali ke Hongkong ketika sedang membantu jaringannya mengembangkan Tianshi. ” Mereka harus segera pulang dan cepat pensiun dari pekerjaan mereka saat ini sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW),” kata Asiya.

Asiya mengungkapkan bahwa dirinya merasa senang dengan reward Mercy yang diterimanya.“Alhamdulillah, luar biasa sekali. Saya tidak bisa mernbayangkan bisa naik Mercy. Nyaman rasanya, mantap dan tidak ada goyangan sama sekali,” kata Asiya ketika menikmati Mercy C230 Sport sebagai reward Luxury Car dari Tianshi.
Sebelum menggeluti bisnis Tianshi, Asiya adalah seorang TKW. “ Dulu yang namanya TKW hanya dipandang sebelah mata. Kami selalu dianggap lebih rendah, jika lantai itu kotor, kamu lebih kotor lagi. Bahkan terkadang pakai ditendang segala, Tetapi kami yakin, Allah yang menetapkan derajat manusia,” kata Asiya.

Asiya bergabung dengan Tianshi pada akhir 2003 dan mulai aktif Januari 2004. AwaInya, Asiya mengaku belum mendapat gambaran sama sekali bagaimana cara menjalankan bisnis ini. “ Saya memulai bisnis ini dari Hong Kong, tempat saya menjadi TKW. Tianshi telah memberikan masa depan yang cerah. Dulu saya ini bukan siapa‑siapa,” kata Asiya.

Adalah Ice Sofiatullah yang mengenalkan Tianshi kepada Asiya. Menurut Asiya, Ice bersama Ustadz Jujun Junaidi telah berjuang keras dalarn mernotivasi TKW yang ada di Hong Kong. “Mereka mernbuat kami menjadi keras dan termotivasi untuk sukses. Alhamdulillah, kami mendapatkan kekuatan dari mereka berdua, apapun yang terjadi saya lakukan di sana,” kata Asiya.

Pada waktu itu, sebetulnya Ice tidak bermaksud berbisnis. la hanya mengadakan pengajian rutin yang diaclakan oleh majlis taklim. Asiya adalah anggota majlis taklim tersebut. Tujuan Asiya ikut majlis taklim yang berada di bawah Konsulat jenderal RI itu hanya ingin belajar.

Asiya termasuk anggota majlis taklim yang aktif sampai dijuluki sebagai juru kunci mushola. Asiya tidak sungkan‑sungkan membersihkan karnar mandi dan wc. “Alhamdulillah, sekarang ada di sini. jika dulu saya mencabut rumput‑rumput mushola, nanti saya akan mencabut rumput surga,” kata Asiya.
Pada pengajian itulah Asiya dikenalkan Tianshi karena ia menanyakan cara menyelesaikan utang. Asiya mengaku bahwa dirinya bersama teman‑teman pernah melakukan usaha dan bangkrut. “ Saya hanya dipresentasi selama 10 menit. Lalu saya ngak bisa tidur karena memikirkan Tianshi. Saya pun mengejar Ibu Ice yang semula ragu‑ragu mengenalkan Tianshi kepada, kami,”kata Asiya.

Tetapi, Asiya sudah bertekad mengubah nasib. Ice tidak banyak bicara, ia hanya mengatakan Aisya harus berhasil dan bisa mengangkat derajat teman-teman dan deraiat orang tua. “ Alhamdulillah, saya mejadi orang pertama yang mengangkat derajat teman‑teman TKW,” kata Asiya. Setelah rnengenal para TKW sekarang lagi membicarakan apa yang terjadi saat ini atau pun tentang majikan‑majikan mereka. Kini para TKW Iebih banyak berbicara tentang masa depan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak‑anak. “ Seperti orang‑orang bisnis, teman-teman sudah berubah,” kata Asiya.

Asiya sudah enarn tahun menjadi TKW di Hong Kong. Ia bergabung dengan Tiansh setahun sebelum pulang ke Indonesia. Ketika itu belum ada alat bantu dan support system yang mendukung pengembangan bisnis. “Saya itu, saya nggak tahu kalau perkembangan bisnis Tianshi Indonesia sudah begitu pesat,” kata Asiya.

Menjalankan bisnis Tianshi di Hong Kong awaInya memang sulit. Karena, sebagai TKW dilarang menjalankan bisnis. Menurut Asiya, TKW tidak boleh memiliki penghasilan selain sebagai TKW. “ Pernah suatu ketika, produk kami disita polisi. Jika ketahuan kan menjalankan bisnis, bisa dihukum dan dipulangkan,” kata Asiya. Asiya terpaksa mernbuat home meeting di dekat tempat sampah, dipinggir laut atau di kebun. Perternuan dilakukan dua minggu sekali ketika libur kerja. “Pernah suatu saat ada pemblokiran tempat pertemuan dan sempat dikejar polisi. Kami juga sempat mengadakan pertemuan ditengah kebun dan dalam keadaan hujan, jadi menggunakan payung sambil berdiri dan memegang microphone,” kata Asiya.

Asiya mengungkapkan bahwa banyak tantangan ketika awal membangun jaringan di Hong Kong. MisaInya saja, tidak ada tempat pertemuan, kehujanan, tidak saling kenal, tidak bisa menitip barang. “ Membangun jaringan di Hong Kong memang Iebih sulit. Kami hanya memiliki keyakinan bahwa Tianshi memberikan harapan. Saya dan suami saling memberi semangat. Sesama TKW juga saling menjadi motivasi untuk bisa sukses,” kata Asiya.

Pihak pernerintah Hong Kong khawatir para TKW membuat organisasi dan memberontak. ” Padahal kami hanya menjalankan bisnis, Alhamdulillah, sekarang sudah Iebih baik dan Tianshi dikenal dari China,” kata Asiya.

Kondisi sekarang sudah berbeda, sudah ada tempat pertermuan. ” Kantor perwakilan Tianshi di Hong Kong juga sudah bisa menerima kami. Polisi juga tidak lagi mengejar‑ngejar kami. Para member Tianshi di Hong Kong sudah Iebih enak dan Ieluasa dalam mengembangkan bisnis,” kata Asiya.

Asiya masih bolak‑balik Indonesia‑Hong Kong, sekitar empat sampai enam bulan sekali untuk membina jaringan yang ada di Hong Kong. Saat ini Asiya mengembangkan jaringan di Indonesia yang dibangun mulai dari keluarga dan saudara‑saudara TKW di Indonesia. ” Mereka harus bisa meningkatkan kondisi ekonomi keluarga,” kata Asiya.

Impian ke depan saya ingin lebih eksis lagi. Saya ingin lebih banyak lagi membantu orangorang, terutama yang masih dianggap lemah. Bagi yang berhasil harus semakin banyak berbagi, karena kebanyakan orang yang telah berhasil seringkali menjadi takabur.