Laman

Search

03 Desember 2009

Perempuan di Negeri Beton : Jeritan Tanpa Suara Pahlawan Devisa


Tujuh tahun tersiksa, bukan masalah baginya. Ia mencoba tabah demi Independent Visa dan dua kewarganegaraan. Belakangan, ia semakin rela sengsara lahir batin demi buah hati tercinta.

Namanya Tika, seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Demi keluarga ia menempuh jalan berliku. Gaji tujuh bulan pertamanya dipotong hingga 80% untuk mengganti biaya keberangkatan. Sayangnya ia tergoda bujuk rayu lelaki Hongkong. Tika menyerahkan kegadisannya. Si lelaki mau bertanggung jawab, mereka menikah. Namun pernikahan hanya siasat si lelaki agar mendapat dana kompensasi keluarga miskin dari pemerintah. Suami berleha-leha, Tika tetap bantung tulang bekerja. Demi mendapat independent visa -yang memungkinkannya mendapat pekerjaan selain pembantu- Tika rela menjadi istri warga negara Hongkong selama tujuh tahun. Namun setelah anaknya lahir, bukan visa lagi yang dicari. Tika hanya ingin anak yang dilarikan sang suami.


Kisah Tika merupakan penggalan cerita Perempuan dari Negeri Beton Penulisnya, Wina Karni paham sekali masalah yang dihadapi BMI Hongkong. Berbagai suka dan duka –lebih banyak duka- meluncur satu-satu lewat goresan tangannya. Wina seolah ingin membuka mata anak bangsa, beginilah nasib pahlawan devisa di negeri Jet Li..

Selain kisah Tika, Wina juga menyuguhkan kisah Anjani, BMI yang terjerat free sex karena kejenuhannya bekerja. Ada juga kisah Hesti yang rela menikah dengan Rani/Roy, seorang lesbi dengan mas kawin buku ‘Indahnya Pernikahan Sejenis’ Cerita lain tentang tokoh aku yang dipaksa majikannya yang kleptomania mencuri tissue toilet. Selain cerita-cerita lara, Wina juga merekam kisah nenek yang disisihkan keluarganya lewat Perempuan Tua di Jembatan Layang. Wina ingin menggambarkan bahwa nestapa bukan hanya milik warga Indonesia. Warga setempatpun juga ada yang merana.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen Wina memang berwajah muram. Hampir 12 cerpennya berkisah tentang pahit getirnya nasib BMI. Penyiksaan dan caci maki adalah makanan setiap hari. Yang penting ada dollar setiap bulan untuk dikirim ke kampung.

Yang menarik adalah pemakaian setting Viktoria Park, taman berkumpul BMI di hari libur, pada hampir seluruh cerpen.. Di sana mereka melepas penat, betukar cerita, juga mengasah keterampilan. Bukan tak mungkin pula sebagian cerita ini lahir karena seringnya wina berkumpul di Viktoria Park.

Membaca buku ini, kita seolah dihadapkan pada realita; begini lho nasib pahlawan devisa. Lewat buku ini Wina ingin berteriak sekeras-kerasnya, adakah yang peduli agar BMI tak terhinakan lagi!

Andai para petinggi negeri menyempatkan dfiri membaca buku ini. Mungkin akan ada perubahan yang cukup berarti untuk sang pahlawan devisa. Dan mungkin itulah yang diharapkan Wina lewat bukunya ini. Jika tidak, suara Wina dan teman-temannya akan tetap memantul-mantul di dinding negeri beton, hingga akhirnya terdengar berita BMI mati disiksa majikannya, pemerkosaan, dan luka-luka berdarah di badan, di hati perempuan negeri beton.



Wina Karnie


Kokonata