Laman

Search

08 November 2009

Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta Pada Hujan

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada saya. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat sedang menjemur cucian di siang hari. Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak menemukan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.

Dan seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya jatuh cinta. Cinta yang kadang membuat dada terasa sesak penuh rindu, dan getaran yang menjalari rona merah di pipi yang tersenyum malu-malu. Dan kali ini, saya jatuh cinta pada Hujan.

Saya nyaris lupa kapan tepatnya saya jatuh cinta. Yang saya ingat, saat itu desa kecil kami dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan lamanya Hujan tidak turun mengguyur. Sawah-sawah berpetak yang semula menghijau segar mulai kering dan pecah-pecah. Sementara air sungai terus menyusut. Karena itu, air betul-betul dihemat pemakaiannya. Yang utama adalah air minum, sisanya baru menyusul. Kami sampai lupa, kapan terakhir kalinya kami mandi dan mencuci.

Menurut Mak Sani, dukun terkenal di desa kami, Hujan sedang bosan. Tentu saja, pernyataan Mak Sani itu membuat geger para warga kampung.

“Hujan bosan? Bagaimana mungkin ia bisa bosan? Ia adalah Hujan, yang seharusnya membawa kesegaran!,” teriak seorang warga. Sementara warga lainnya mulai berteriak lebih kencang, Mak Sani mengangkat tangannya.

Diam semuaa!!!, ” katanya. Dan seperti biasa, kalau Mak Sani sudah berbicara, maka tak ada seorang pun berani buka mulut.

“Tentu saja Hujan bisa bosan. Dia juga hidup, dia juga punya perasaan. Selama ini dia sudah mendatangkan banyak berkah untuk kita, dia menyuburkan sawah kita, dia mengaliri sungai-sungai kita, dia memuaskan dahaga kita, sementara apa yang kita berikan buat dia?, ” lanjut Mak Sani.

“Lalu bagaimana caranya? Apa yang bisa kita berikan buat hujan?, ” cetus seorang warga.

Mak Sani berdehem sedikit. “Ehm, begini, kemarin saya sempat bicara dengan Hujan. Katanya, dia butuh seorang wanita untuk menemaninya. Dan wanita itu haruslah perawan yang berambut panjang,” tutur Mak Sani panjang lebar.

Dan seketika seluruh mata memandang pada saya.

***

Tentu saja, saya bukan satu-satunya gadis yang perawan di desa. Tapi sejak ada salon Bu Marni, para gadis seperti berlomba untuk memotong rambutnya.

“Kan rambut pendek sekarang lagi tren. Masa kamu nggak bosan, tiap hari harus melumuri rambutmu dengan merang? Belum lagi kalau siang, gerah!,” ujar Atik, yang paling modern diantara kami.

Tapi saya tetap bertahan dengan rambut sepinggang. Saya paling suka menyisir rambut, merasakan sisir yang meluncur dari akar rambut sampai pinggang saya. Saya suka merasakan helai-helai rambut di leher, pundak, dan punggung, saat saya berbaring tidur. Karena itu, saya tak segan melumurinya dengan merang sampai hitam berkilat. Memberinya telur dan lidah buaya, agar ia tumbuh subur. Bagi saya, rambut ini adalah permata. Tapi sekarang, gara-gara rambut panjang sialan ini, saya malah ditumbalkan untuk Hujan.

Hari ini, saya memakai kebaya yang terbagus. Tadinya Atik dan Bu Marni ingin merias wajah saya, tapi dilarang oleh Mak Sani.

“Hujan paling benci segala yang buatan. Sisirlah rambutmu sampai berkilat, dan tunggulah di puncak bukit,” begitu pesan Mak Sani.

Disini, diatas bukit inilah saya menunggu Hujan. Dalam hati, saya mengutuki salon Bu Marni dan teman-teman yang telah memotong pendek rambutnya. Saya bisa merasakan tangan ini mulai basah oleh keringat. Dibawah, tampak para warga desa sedang menatap langit dengan wajah penuh harap. Semua sedang menunggu datangnya keajaiban.

Satu menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Untuk mengusir sepi, saya mulai bersenandung lirih. Tembang-tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan almarhum Ibu untuk menidurkan saya.

Seketika, mulai terdengar suara guruh di kejauhan. Tak lama, Hujan turun. Mula-mula gerimis, kemudian turun menderas. Katanya, ia terpesona mendengar nyanyian saya. Saat itu, saya cuma bisa tersipu mendengar pujiannya.

Sementara di bawah, seluruh warga bersorak-sorai. Hujan turun sampai sore. Dan malamnya, warga desa berpesta semalam suntuk. Ratusan ucapan selamat dan terima kasih datang bertubi-tubi pada saya.

“Terima kasih Raya! Kau telah menyelamatkan desa kita!, ” begitu ujar mereka. Dan saya cuma tersenyum, lalu kemudian diam-diam menyingkir pulang.

Kebaya saya masih lembab sisa terguyur Hujan. Saya masih ingat, tetesannya yang membelai rambut saya, sambil membisikkan kekaguman atas senandung saya. Pelan, saya cium kebaya saya. Masih ada bau segar Hujan disana. Dan malam itu, saya tertidur memeluk sehelai kebaya basah, sambil berharap bisa bertemu Hujan lagi…

***

Esoknya, ternyata Hujan turun lagi. Tetesannya yang merdu di genting membuat saya seketika terjaga.

“Maaf membangunkanmu sepagi ini. Tapi aku merindukanmu Raya,” bisiknya lembut.

Dan saya langsung lari keluar rumah. Di halaman, saya membentangkan tangan selebar-lebarnya, agar Hujan bisa memeluk saya. Ia pun menyambut pelukan saya. Hujan turun makin deras. Setiap tetesnya bercerita tentang kerinduannya. Pada nyanyian saya, pada rambut saya, pada wajah saya yang tersipu. Dan di tengah derasnya Hujan, saya mulai bernyanyi. Semula hanya senandung lirih, yang makin lama makin kencang. Sementara Hujan mulai reda. Saya tahu, dia sedang mendengarkan.

“Terima kasih. Aku tahu, kamu pasti mau melakukannya,” bisiknya, lalu mengecup bibir saya.

***

Semenjak pagi itu, Hujan makin sering datang. Kadang ia datang di tengah malam, saat para warga yang terjaga sudah mematikan lampu terakhir. Kadang, ia datang di pagi buta, saat hari masih berkabut, sementara anak-anak masih mendengkur pulas dan meringkuk nyaman dalam hangatnya buaian selimut.

Saat-saat seperti itu, saya selalu keluar rumah. Sambil bersenandung pelan, saya akan memeluknya dalam gerimis. Dan setiap kali tubuh saya sudah terlalu basah, Hujan akan mengingatkan saya untuk segera masuk ke rumah dan menghangatkan diri.

“Kalau terlalu basah dan kedinginan, kamu bisa sakit. Masuklah. Aku akan menemanimu di luar, sampai kau tertidur,” begitu katanya.

Dan tepat setelah saya menutup pintu, angin akan berhembus lembut di tengah gerimis. Saya tersenyum. Sekarang, dia yang sedang bernyanyi untuk saya. Diatas tempat tidur yang hangat, saya akan berbaring diam-diam mendengarkan. Saya tahu, Hujan tak akan berhenti sebelum saya tertidur pulas.

Keesokan paginya, helai-helai daun yang basah dan genangan air yang becek, meninggalkan jejak, bahwa Hujan telah terjaga semalaman. Dan saya tahu, dia tidak berdusta.

*****

Toh seperti pasangan kekasih lainnya, kami juga punya masalah. Kali ini masalah itu datang dari gunjingan orang-orang kampung. Bermula dari keluhan para ibu, yang cuciannya sering tak kering. Dilanjutkan dengan keluhan sejumlah penduduk yang terserang flu, dan sejumlah petani yang gagal panen, karena cuaca yang kelewat lembab untuk tanaman mereka.













Gunjingan itu datang dengan berbagai bentuk. Saat langit mulai mendung, mereka akan mulai menatap sinis dan mencibir. Lalu mereka akan pulang ke rumah, menutup semua pintu. Berbisik-bisik lewat sela-sela dinding bambu rumah mereka yang rapuh. Saya bisa mendengarnya.










Tapi tidak demikian halnya dengan Hujan.










Dengan butanya, ia terus saja datang. Dan seperti pasangan yang sedang kasmaran, kami pun mabuk dengan cinta. Setiap kali melihatnya, mendengarnya, merasakannya, saya tahu bahwa hanya saat inilah yang terpenting. Bahwa dalam dunia kami yang kecil dan sederhana, hanya ada saya dan dia. Mabuk karena cinta. Rindu karena cinta. Buta, tuli, karena cinta. Menggila karena cinta.










Ya, hanya ini yang terpenting….










*****










“Mak Sani, bagaimana ini, Hujan kok makin sering datang!” teriak seorang warga saat rapat desa.










”Iya, kita semua sudah bilang sama Raya. Tapi dia tetep aja nggak peduli. Masa dia enak-enak pacaran, kitanya kebanjiran!” tandas warga lainnya.













”Pokoknya, keadaan ini tidak boleh berlarut-larut! Kita harus ambil tindakan! Kita harus tegas!” cetus seorang pemuda, yang dikuti oleh sorak-sorai warga.










Dan Mak Sani cuma bisa mengangguk lemah.













*****










”Bagaimana Mak Sani, semua siap?” tanya Kepala Desa.










Mak Sani menoleh pada saya, yang terikat pada sebuah tiang kayu. Di bawah kaki saya, ada bertumpuk-tumpuk kayu bakar dan ranting kering. Di kejauhan, tampak beberapa pemuda membawa jerigen-jerigen bensin.










”Siap,” ujar Mak Sani, sambil menggenggam erat sebungkus korek api.










Ia mulai menyalakan koreknya. Sementara, mata saya tak lepas menatapnya. Saya tidak pernah menyalahkannya. Saya juga tidak menyalahkan para warga. Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja.













Saat api mulai menjilat kaki saya, sekilas saya mendengar Mak Sani berbisik.













”Maafkan saya Raya, saya terpaksa. Kalau saya tidak melakukan ini, mereka akan mengusir saya. Ma…..,” bisik Mak Sani.













Saya tidak sempat mendengar lanjutan kalimatnya. Saya cuma bisa melihat lidah api berkobar-kobar di sekeliling saya, sorak sorai warga, dan rasa rindu yang tak tertahankan pada satu-satunya kekasih saya. Pelan-pelan, saya bersenandung. Untuknya, hanya untuknya.













Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja. Itu saja…










*****










Sore itu tetes Hujan yang terakhir memadamkan api unggun di balai desa. Sayangnya, ia terlambat. Api unggun terlanjur hanya menyisakan seonggok mayat perempuan yang sudah menghitam. Hujan memeluk kekasihnya, memanggilnya, memerciki wajahnya dengan air dingin. Tapi kekasihnya tetap tak bergeming.










Malamnya, Hujan berduka. Ia turun luar biasa deras, seolah-olah ingin menenggelamkan seisi desa. Guruh menggelegar, sementara angin ribut meraung-raung. Tapi bila warga kampung itu sungguh-sungguh mendengarkan, maka akan terdengar tangis duka Hujan yang menyayat memilukan. Tangis duka yang mengiringi kepergian kekasihnya. Satu-satunya kekasihnya.










Malam itu juga sekaligus malam yang tak akan pernah terlupakan oleh warga kampung itu. Itulah malam terakhir mereka bisa merasakan tetes hujan. Karena sejak malam itu, Hujan tak pernah lagi turun disana.




(Retnadi)