Laman

Search

15 November 2009

Kabar dari Shelter : Disiram Air Panas dan Tidur Dibawah Jemuran

(Di antara cerita sukses sejumlah buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong, ada pula cerita sedih. Bukan karena kesembronoan BMI yang bersangkutan, tapi karena perlakuan tak manusiawi dari majikan. Beruntung nasib buruk mereka tak sampae berkepanjangan, karena ada jalur penyelesaian yang bisa ditempuh BMI yang sedang bermasalah. Dan shelter atau tempat penampungan sementara menjadi hal penting dari upaya penyelesaian tersebut.)

Dari sejumlah kasus yang menimpa BMI di Hong Kong, yang menonjol antara lain underpayment (gaji dibawah standar), penganiayaan dan tidak sesuainya kontrak kerja dengan kenyataan di lapangan. Gembar gembor pemerintah, adanya perlindungan mutlak untuk para BMI (Buruh Migran Indonesia) yang bermasalah masih jauh dari harapan. Janji tinggal janji janji, yang harus tetap dinanti.

Berusaha tabah dan menerima kenyataan, sambil menunggu proses yang berlaku, hanya itu yang bisa dilakukan oleh beberapa BMI yang kini sedang tersandung masalah dan menjadi penghuni Shelter Koalisi Organisasi TKI Hong Kong (Kotkiho) di Yaumatei.

Tempat penampungan BMI bermasalah ini menjadi gaduh seketika, saat satu persatu dari 35 orang BMI penghuni shelter menceritakan permasalahannya masing-masing, Minggu (8/11). Mereka duduk bersila di lantai, berdesakan dengan wajah kuyu dan terkadang tersenyum simpul sambil bercerita tentang kejadian yang menimpanya.

Seperti yang dialami Suparmi (39), BMI berasal dari Solo Jawa Tengah yang bekerja pada majikan di daerah Price Edward ini. Selama 11 bulan ia mengalami penganiayaan dan diskriminatif. Suparmi bekerja pada majikan pasangan suami istri yang berumur 59 tahun dan mempunyai dua anak yang sudah dewasa. Pekerjaan Suparmi yang begitu banyak dan tidak mengenal waktu membuat tubuhnya yang mungil semakin mengecil karena kurangnya waktu untuk istirahat.

Tempat yang diberikan majikan untuk Suparmi juga tidak layak disebut ruang untuk istirahat. Perlakuan tak manusiasi benar diterima oleh buruh migran yang baru pertama kali ini ke Hong Kong ini. Majikan menganggap Suparmi kotor sehingga tidak boleh tidur didalam rumah. Terpaksa Suparmi setiap malam tidur di teras luar, tempat menjemur baju tanpa adanya alas untuk tidur ataupun selimut. Jika musim hujan tiba, Suparmi hanya bisa menangis, bahkan terkadang angin kencang yang secara tiba-tiba datang menerpa tubuh Suparmi yang menggigil kedinginan.

Suparmi hanya bisa pasrah pada nasib, hanya berdoa dan berserah kepada Tuhan disaat mendapat penganiayaan dari majikannya. Melakukan kesalahan sedikit saja, tangan Suparmi menjadi sasaran kemarahan majikan yang dengan sengaja menyiramkan air panas ke tangan kanan Suparmi. "Lihat mbak tangan saya, ini ada bekasnya sedikit waktu nyonya menyiram saya dengan air panas. Dan kalau nyonya menyuruh saya memasak ikan, pipi saya ini sering kali dilempari dengan ikan mentah yang baunya minta ampun mbak, amis sekali,” ujar Suparmi kepada Memo

Perlakuan majikan yang keterlaluan membuat Suparmi mencari waktu dan kesempatan untuk kabur dari rumah majikan. Kesabaran Suparmi membuahkan hasil, dari mulut ke mulut Suparmi mengetahui adanya sebuah organisasi yang menangani permasalahan BMI. Dengan bantuan Kotkiho, kini Suparmi menunggu keadilan datang dan mau berpihak padanya. Banyak hal yang dapat dipelajari Suparmi semenjak menjadi penghuni Shelter Kotkiho, mulai dari hak BMI yang terampas dan hukum yang harus diterima majikan jika melanggar undang-undang perlindungan hukum bagi BMI. (Adp)

(Tabloid Memo # 122)