Laman

Search

18 Februari 2010

Sampai Tak Jumpa Lagi !


Simfoni malam ini sangat nyata berdengung di indera pendengarku. Namun nyata sekali semua itu tak kukecap dalam otakku, melayang – layang tanpa pernah masuk ke dalam ulu hatiku. Jauh pikiranku berjalan dan menusuk perlahan ke dalam hati dan jantungku. Hatiku serasa tergerogoti sedikit demi sedikit, dan jantungku terasa terus mengkerut berkelanjutan setiap harinya. Aku sakit. Dan kulihat anak – anakku berbaring tenang di kamar tidur mereka. Tidur selelap mungkin tanpa pernah merasakan kesakitan ibunya. Termasuk juga malam hari ini.

Lalu tangisku mulai berhambur saat aku melihat mulut – mulut kecil anak – anakku yang terkulai lemas dan tanpa dosa.
***
Sudah hampir lewat setahun sejak kepergian suamiku ke pulau Kalimantan. Dan aku tak pernah mengetahui benar – benar akan keadaannya. Yang kutahu hanyalah : “Aku baik – baik saja dan aku sehat”. Begitulah yang selalu hadir pada setiap pesan nya yang ia kirim kepadaku. Tetapi hatiku lega.
Yang aku khawatirkan adalah pertanyaan – pertanyaan anak – anakku yang selalu menanyakan kondisi ayah tercintanya. Mereka bosan aku hanya menjawab jawaban klise, “Ayah baik – baik saja dan sehat.”
“Kapan Ayah pulang?” tanya mereka.
“Tidak tahu, mungkin beberapa bulan lagi,” jawabku.
Lalu mereka berteriak – teriak senang sambil berkata, “Semoga Ayah membawakan oleh – oleh untukku.”
Hatiku pedih melihat kegembiraan nyata mereka yang ternyata hanyalah satu kesemuan yang ragu – ragu dan akhirnya muncul tepat pada simpuls otakku. Aku mulai curiga. Sudah tiga bulan terakhir ini, suamiku tak pernah mengirimkan nafkah bagiku dan anak – anakku. Walaupun seharusnya tak masalah buatku, karena aku bukan ibu rumah tangga dan bisa dibilang bisa memperoleh penghasilan tetap setiap bulannya. Tetapi bukankah kewajiban seorang suami untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya?
Namun aku telah putus asa. Putus asa mengirimkan pesan yang berisi seribu pertanyaan terus menerus padanya, dan dijawab hanya lewat keacuhan yang kosong, tanpa kejelasan yang benar – benar kubutuhkan. Rindu dan kesal bercampur aduk dalam perutku dan sukses mengirimkan rasa mual pada perutku setiap kali aku mengingatnya. Hari – hariku terus aku jalani dengan satu kejengkelan yang terus tumbuh seperti kuku, walaupun aku telah melupakannya, ia kan hadir lagi memenuhi sisi negatifku.
***
Hari – hariku yang penuh dengan kejengkelan bercampur dengan rasa rindu yang tak pernah berujung, dan diakhiri dengan keputus asaan berakhir sudah. Di suatu pagi yang aku lupa berapa tanggalnya, ia mengirimiku sebuah pesan singkat yang berisi kata – kata pendek yang tak mampu hapuskan rasa jengkelku padanya selama satu setengah tahun ini, tetapi memberikan kelegaan sendiri atas pertanyaan – pertanyaanku. Aku akan pulang Jumat besok, begitu isi pesan singkat darinya. Lalu lubuk hatiku mulai dimasuki oleh deru angin kebahagiaan yang tak terkira. Aku berteriak memanggil anak – anakku yang baru saja mandi sambil berkata, besok Ayah akan pulang. Dan anak – anakku menyambutnya dengan teriakan – teriakan yang tak kalah gembiranya.
Kubeli perabot rumah yang sekiranya mampu melengkapi perkembangan rumah yang telah sembilan tahun kami tempati itu, setidaknya tak membuat ia merasa menyesal di waktu pulang nanti. Aku membeli banyak bahan makanan di pasar pada hari Kamis, yang akan kumasak pada hari Jumat pagi – pagi sekali, dan aku mengambil cuti pada hari Jumat, khusus untuk suami tercintaku yang baru pulang dari pulau nan jauh di sana.
***
Pukul sepuluh lebih tiga menit ia tampak di pagar depan rumahku. Aku berhambur memeluknya. Aku kangen, begitu kataku. Dan ia tak menjawab. Kupersilahkan ia untuk beristirahat dulu.
“Nggak lapar?” tanyaku.
“Masih kenyang,” ia menjawab tanpa melihat mataku, lalu mendudukkan dirinya pada sofa di ruang tamu kami.
Detik itu juga aku merasa ia berbeda, mataku tak merasa ada kenyamanan lagi saat melihat matanya. Dan kubertanya, “Kenapa?”
Ia bertanya balik, “Maksudmu?”
“Ada yang kamu rahasiakan dariku,” jawabku sedih.
Aku menatap makanan – makanan kesukaannya yang telah kupersiapkan sebaik mungkin demi kedatangannya. Lalu aku merasa semua tindakanku hari ini sia – sia. Mungkin hanya akan membuat sedihku menjadi.
“Anak – anak belum pulang?” tanyanya.
“Belum,” aku menjawab.
“Aku mau bicara.”
“Sudahlah utarakan saja semua,” jawabku pasrah.
Dan selama setengah jam ia berbicara panjang lebar, lalu selama setengah jam itu pula air mataku tumpah menuruni kedua pipiku, lalu terbendung pada rok bawahan yang kemarin khusus kubeli untuk hari ini. Membentuk satu bentuk pulau besar yang terbuat dari air mata, aku benar – benar jatuh dan tak tahu harus berbuat apa.
“Hari Minggu aku akan kembali,” ujarnya.
Aku terus menangis tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Aku menjadi si bisu cengeng yang menatapi wajah suaminya yang tak pernah berjumpa dengannya selama satu setengah tahun.
***
Kulihat suamiku bermain – main dengan kedua anak – anakku di teras, sambil menyadari bahwa satu jam lagi ia akan pergi. Dan ia terus menerus manyuarakan kegembiraan bersama anak – anakku , yang kutahu itu adalah kegembiraan palsu, menancap tajam di perasaanku, lalu tak pernah terbuang selamanya.
“Dadah Sita…Andi,” begitu katanya saat ia akan meninggalkan pagar rumahku. Mobil travel jemputan telah berdiri tak sabar di depan rumahku.
“Ayah kapan kembali?” tanya anak – anakku. Dan suamiku tercinta itu hanya menjawab dengan senyuman. Lalu segera pergi dengan diiringi derai tangis kedua anak – anakku yang memelukku erat. Ia sama sekali tak mengucapkan salam perpisahan padaku.
“Kenapa Ayah pergi, Ma,” tanya anak – anakku sambil terisak.
“Ayah punya anak baru di sana, jadi anak – anak Ayah bukan Andi dan Sita aja,” jawabku sambil berusaha tersenyum.
“Lho kenapa anak – anak Ayah di sana nggak dibawa ke sini aja?”
Aku terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Lalu kumenjawab, “Nanti ibunya marah dong.”
Andi dan Sita menangis semakin menjadi. Entah mereka paham atau tidak maksud perkataanku. Aku rasa pantas bagiku untuk mengungkap yang sebenarnya pada mereka berdua, jika melihat kelakuan Ayah mereka yang pergi namun tak mengucapkan salam perpisahan sepatah pun padaku di depan mata anak – anakku yang kuyakin masih awas dan menyimpan sejuta perasaan pula.
Tetapi aku akhirnya tak bisa bertahan untuk tidak menangis bersama mereka. Mungkin ia benar – benar lupa atas kenangan kita dahulu. Ia lupa segalanya, dan aku tahu ia begitu mencintai isterinya yang berada di sana, yang katanya jauh lebih baik dari aku. Dan aku mulai rela.

***
Malam ini aku berniat ingin melupakannya. Telah setengah tahun sejak kepergiannya ke Kalimantan yang begitu menimbulkan bekas luka yang sangat mendalam di pikiran dan organ – organ tubuhku. Aku heran penyakit – penyakit bawaanku begitu giat menyerangku sejak ia meninggalkanku. Menambah berat cobaan hidupku yang tak pernah aku sangka. Suami yang aku cintai sejak aku masih memakai seragam putih biru itu telah tega meninggalkanku demi seorang wanita (yang mungkin cantik) di pulau yang bernama Kalimantan.
Kucoba berkirim surat pada keluarga barunya di Kalimantan yang kudapat dari rekannya. Lalu kuucapkan selamat berbahagia di sana. Dan kudoakan semoga langgeng selamanya pernikahan mereka di sana.
Tak kusangka jawaban yang sama sekali kontra dengan pikiranku muncul pada surat beramplop putih yang kubuka sore tadi setelah aku pulang kerja. Aku mendapat satu kalimat yang jelas, lugas, dan pasti yang tertera pada kertas di dalam amplop itu. Jangan urus keluarga kami lagi, dan jangan ganggu suamiku.Begitu isinya, dan aku tahu pengirim pasti surat itu adalah isterinya. Entah mengapa aku menangis memikirkannya, jawaban yang membuat semua niat tulusku untuk merelakannya pupus sudah. Jiwaku berbalik tidak pernah merelakan suamiku untuknya, dan aku ingin segera melupakannya, semua yang ada pada dirinya yang melekat pada jiwaku.
Malam ini kutetapkan menjadi malam terakhir untukku meneteskan air mata padanya. Dengan mendengar alunan lagu kesukaannya dan simfoni malam yang bertahun – tahun menemani kami. Dengan melihat mulut mungil anak – anakku yang hampir menganga karena lelapnya mereka tertidur. Aku membuang segala tentangnya, jauh lepas dan lekas dari ujung pikiranku yang tidak dangkal. Selamat tinggal dan sampai tidak jumpa lagi.
13 November 2008